Jumat, 18 Januari 2008

Pak Sintong

Tok …tok..tok… pintu utama sekretariat HRM (Himpunan Rakyat Merdeka) diketuk 2 orang anak muda yang datang naik motor bergaya mahasiswa dengan tas gantung berisi buku buku. “Bu, bang Indra ada Bu… kata mereka. “Oh…tak ada. Baru 4 menit yang lalu pergi” kata ibu berkerudung menyambut tamu. Setelah beberapa saat membisu ibu berkerudung lanjut bicara “Ada pesan ?”. Belum sempat dijawab kedua tamu, Ari yang dari tadi mengetik ikut bergabung: ” Lebih baik ditunggu saja, karena bang Indra janji hanya keluar sebentar ambil data dari Biro Pusat Statistik”. Tunggu sajalah, dari pada bolak balik datang kesini”. Kedua tamu saling berpandangan, lantas membuka sepatu masuk kedalam seketariat HRM ; “Baiklah, lebih baik kami tunggu disini saja” .
Sementara Pak Sintong masih terus sibuk di ruangan melanjutkan ketikannya tak memperdulikan tamu yang sudah duduk di ruang tamu.

“Saya Amsal, ini kawan saya Ferri ” kata Amsal memulai pembicaraan. “ Oh,…begitu Lantas urusan apa sama bang Indra?” kata Sisilia ibu berkerudung bendahara HRM yang menyambut tamu. Ari ikut duduk bersila menyambut kedua tamu tersebut. “Kami ini mahasiswa Institut Muslim Seantero “. “Tadi kami dari LSK (Lembaga Simbas Keadilan) menyerahkan undangan pementasan kami sabtu mendatang”. “Dari LSK kami tahu bahwa di HRM ini ada poster dengan thema : Penindasan Perempuan”. Itu makanya kami datang kesini”. “Wah !! kalau poster itu memang banyak disini”. Kami cetak waktu kerja sama dengan PT Kijang Indonesia”. “Kalian boleh ambil semuanya, karena ini sisa seteleh kami sebarkan ke seluruh kabupaten” Ari ikut nimbrung pembicaraan. “Kalau boleh tahu pementasan apa, yaaa..” Sisilia lembut buka bicara. “Pementasan drama, Bu” “Di Institut Muslim Seantero kami punya sebuah lembaga independent namanya Comunitas Kerja”. Kadang kami jadi relawan pengungsi kerusuhan, bikin seminar, penelitian dan lain lain”. Nah ! rencana kami malam sabtu ini pementasan teater di taman budaya”. Amsal beri keterangan tentang rencana lembaga Comunitas Kerja. Nampak ada keinginan dari kedua belah pihak untuk berkenalan lebih jauh lagi. Hal ini jelas kelihatan dari wajah berseri dan kalimat kalimat yang diungkapkan. Penuh semangat perkawanan.
Sedangkan Pak Sintong masih serius tetap mengetik didampingi beberapa buku yang bertebaran dekat komputer. Hal ini sudah berlangsung selama 2 minggu di komputer yang sama dan di waktu yang sama pula. Pak Sintong tidak pernah memberitahukan apa isi ketikannya. Sehingga orang lain hanya bisa menebak bahwa Pak Sintong mengetik tulisan ilmiah sesuai dengan obsesinya beberapa tahun belakangan ini. Biasanya memang dia tak pernah perduli dengan tamu tamu yang berkunjung ke HRM.

Pak Sintong adalah seorang tua yang berkenalan dengan Indra 8 tahun yang lalu. Waktu itu mereka berniat mendirikan lembaga pengkajian media massa yang dinilai tidak punya misi dan visi untuk pengembangan masyarakat. Media massa yang terbit beredar di masyarakat hanya memikirkan keuntungan maximal tanpa memperdulikan unsur pendidikan masyarkat . Oleh sebab itu berita berita yang kaya raya dengan darah segar kriminal, kasus sexual, kesadisan kasus keluarga adalah berita yang paling laku untuk dijual. Sangat merusak watak pembaca. Atas dasar pemikiran inilah Pak Sintong dan Indra mendirikan lembaga kajian eksistensi media massa.

Tapi, rencana mereka gagal total. Dukungan dari lembaga dana tidak diperoleh, karena dalam momentum yang sama konsentrasi dana terpaksa disalurkan kepada penduduk yang menjadi korban konflik sara di beberapa wilayah. Sementara semangat dan kapasitas mereka untuk menjalankan program sudah tak diragukan lagi. Beberapa usaha mempromosikan lembaga serta visi misinya ke perguruan tinggi dan lembaga keagamaan tak mendapat sambutan yang baik. Umumnya jawaban klise menjemukan yang mereka terima. Padahal sebenarnya lembaga lembaga tersebut harus melihat bahwa jaringan kerja dengan lembaga yang akan didirikan Indra adalah sebuah langkah yang efektif dalam pengembangan kwalitas media massa. Tapi, karena tak mau repot berhadapan dengan pemilik media massa yang mendapat perlindungan militer dan status quo, maksud luhur Indra dan Pak Sintong terpaksa ditolak.
Sejak itulah Pak Sintong berumur 58 tahun dengan cambang brewok lebat berkawan dekat dengan Indra hingga sekarang. Indra anak muda potensial pemerhati realitas sosial telah menyerahkan hidupnya untuk berjuang bersama masyarakat tertindas

Tidak mau kerja formal permanent sebagai staf di kantor pemerintahaan maupun perusahaan swasta. Hal ini sangat bertentangan dengan niat ibunya yang mengharapkan Indra setelah menyelesaikan perkuliahan dari fakultas ilmu pendidikan. Ibunya sangat mengharapkan Indra dapat meningkatkan status sosial keluarga mereka yang sudah lama kehilangan ayah. Kedua adik perempuannya kurang berhasil dalam keluarga. Adik perempuannya kawin dengan pegawai kantor pos yang sebentar lagi di PHK karena kegiatan kantor pos jauh merosot setelah kehadiran email, internet dan handphone. Adiknya yang laki laki hanya bekerja sebagai buruh perkebunan. Hanya Indra yang disekolahkan sampai meraih gelar sarjana. Dan sejak jauh hari Indra diharapkan mampu menopang keuangan keluarga. Tapi harapan ibu hanya tinggal isapan jempol. Indra sangat alergi kerja formal.

Tahun lalu Indra dipercaya oleh HRM pusat mendirikan cabang di Pontinano. Indra menjadi pimpinan utama HRM. Penyadaran masyarakat tentang pentingnya mengatur alokasi dana pemerintah di wilayahnya masing masing adalah konsentrasi program HRM. Sampai sekarang progam baru berjalan di 4 wilayah. Sedangkan Pak Sintong tak duduk dalam struktur organisasi HRM. Tapi, mendapat kesempatan mempergunakan segala fasilitas seketariat HRM walaupun untuk kepentingan pribadinya. Disamping sudah berkawan lama dengan Indra, HRM menilai bahwa banyak gagasan Pak Sintong demi untuk kelancaran program. Itu makanya kehadiran Pak Sintong dinilai menguntungkan wacana HRM.
Sebelumnya Pak Sintong adalah penjahat besar yang melarikan diri dari Putausibu. Sempat menjadi kaya raya dari hasil penjualan sarang burung walet di gua milik keluarga. Tapi, karena berbuat curang melarikan uang pembayaran burung walet tetangga Pak Sintong menjadi buron polisi selama 2 tahun. Tak ada yang paham dimana Pak Sintong berada selama masa buron. Mendadak saja hadir di Pontinano seorang diri karena beliau belum jua berumah tangga. Pak Sintong membiayai hidupnya atas bunga uang deposito yang tempo hari digelapkanya dari hasil penjualan sarang burung walet tetangga
Walaupun kasus itu sudah di peti-es kan tapi sampai sekarang beliau tak berani kembali pulang ke Putausibu. Justru, profesi baru sebagai kritikus sastra yang masih amtiran telah menyita seluruh perhatiannya. Akibat perjumpaan dengan Indra, watak serta perhatian Pak Sintong berubah total. Indra dengan penuh sabar membimbing dan mengasah pikiran kritis Pak Sintong hingga mampu memberi kritik/saran terhadap berbagai karya sastra yang beredar di masyarakat.

“Wah !!! berarti dua hari lagi kami akan melihat kalian tampil di Taman udaya”? kata Ari dengan antusias. “Iya,..Bang, saya dan Ferri saja yang terus menerus hilir mudik kesana kemari” . ”Mulai dari persiapan latihan, lobby dana, dan lain lain kami kerjakan berdua saja” Amsal nampak letih. “Berapa orang pemain yang terlibat dalam pementasan ?”.” Kenapa mereka tak ikut berpartisipasi mempersiapkan pementasan?” Sisilia menunjukan perhatiannya terhadap keletihan Amsal.” Ada 17 orang dan mereka hanya heboh berlatih tak mau perduli persiapan lainnya” Ferri menjelaskan. “Berapa lama persiapannya”? Ari juga tertarik nampaknya. “Lama bang, …kami sudah bekerja sejak 4 bulan yang lalu” Serius dan letih sekali nada suara Amsal menjawab Ari. “Berarti uangnya banyaklah” sambut Sisilia. “Banyak uang ?,… Bagaimana !! ???” Uang yang ada hanya 90 ribu saja”. Amsal jengkel. “SEMBILAN PULUH RIBU …?” dengan suara berat agak terkejut Pak Sintong keluar dari ruangan komputer ikut bergabung berdiskusi. “Dari tadi saya ikuti pembicaraan kalian”. Walaupun saya menekuni seni tulis, tapi saya juga memberi perhatian terhadap seni gerak”. “Itu makanya kedatangan kalian sebenarnya mengundang perhatian saya”. “Tapi, karena kalian nampaknya masih pemula, maka saya tahan diri untuk tidak tanya tanya kalian”.

Dengan suara berwibawa dan bergema Pak Sintong mengambil tempat duduk bersila ikut dalam pembicaraan. Ferri, Amsal, Sisilia dan Ari duduk menunggu Pak Sintong melanjutkan bicaranya: “Iya,… saya prihatin mendengar kerja kalian”. “tapi, siapa diantara kalian yang serius ingin hidup di dunia teater”? penuh semangat Pak Sintong bertanya. Dengan sigap Ferri langsung merespons: “Ini pertanyaan yang berat Pak” Kami belum berpikir sampai kesana”. “Wah, sudah hampir terlambat”. “Setidaknya ada 2 atau 3 orang sudah punya komitmen untuk hidup dari teater dan hidup untuk dunia teater”. “Tak perlu kalian takut dituduh mata duitan” Yang jelas tarif untuk orang yang mau bekerja profesionil selama 4 bulan pasti mahal”. Seharusnya kalian sebagai panitia maupun pemain sudah dapat gaji satu juta sebulan”. “Itu tarif yang paling kecil”. Kalian justru keluar duit untuk pementasan”. “Ini tandanya cara kerja kalian macam seniman tahun 60 an” “Kampungan !!!“. “Masih amatiran” pak Sintong nampak keberatan atas kerja kaum muda yang belum melirik bahwa kerja profesionil dalam teater bisa menjadi pijakan menata karir.
“Sudah kemana saja kalian”? tanya Pak Sintong dengan rasa ingin taunya. Maklum bapak yang satu ini perhatian sekali dengan anak-anak muda yang serius menggeluti bidangnya. “Kami sudah jual tiket pementasan ke LSK, beberapa salon kecantikan dan perusahaan kayu”. “Kami tak tahu entah menjual kemana lagi?” mata Ferri dengan pandangan kosong menatap Pak Sintong. “Oke,… begini saja saya telepon beberapa kawan, nanti kalian ambil duit dari mereka” . Oke…” Pak Sintong berikan usul, “Dan, tiket yang gratis untuk HRM sebaiknya dibayar saja”. Lantas Pak Sintong mohon Sisilia serahkan duit membeli 5 lembar tiket. “Ma kasih Pak” Ferri malu malu kucing menerima uang dari Sisilia. “Nah !!!, untuk meniti karir profesionalisme di dunia teater, sebaiknya dalam evaluasi nantinya undang beberapa personil yang dinilai potensial”. “Kita minta mereka untuk mempromosikan kemampuan kita beracting” “Bukan mempromosikan agar mendapat dukungan dana saja”. “Tapi kita dipromosikan juga agar paham nilai filosofi teater maupun melatih kemampuan acting”. Pak Sintong membakar kematangan Ferri dan Amsal dalam menggeluti profesi yang sedang mereka tekuni. “ Cocok sekali Pak”. Berarti bapak nanti harus hadir pada acara evaluasinya” mata Amsal berseri mendengar dunia baru yang lebih baik. “Yah,…saya usahakan” Pak Sintong bangkit berdiri serentak bersama Amsal, Ferri, Sisilia dan Ari. Bersalam salaman penuh rasa kekeluargaan. Amsal dan Ferri meninggalkan sekretariat HRM menuju alamat kawan Pak Sintong yang akan memberi sedikit sumbangan dana setelah tadi dikontak telepon.

“Lugu sekali pandangan mereka tentang dunia teater ya… Pak Sintong” Ari langsung memberi komentar. “Iya,… mereka masih terlalu idealis melihat dunia ini” Sisilia juga sudah memendam komentarnya, sehingga dia mendahului Pak Sintong untuk memberi opini. “Inikan dunia entertaiment”. “Dunia pertunjukan yang jauh lebih orisinil jika dibanding pentas musik”. “Dalam teater ada titik tekan yang kuat untuk menyampaikan missi ke masyarakat. “Jadi bukan kerja yang main main. “ Perlu latihan yang lama dan konsepsi serius untuk penampilan sebuah karya seni teater” Sisilia yang belakangan ini banyak menyita waktu untuk memahami filosofi seni di tengah tengah masyarkat langsung tergerak mengutarakan pendapatnya. “Benar yang dikatakan Sisilia. “ Belakangan ini konsep seni untuk rakyat semakin populer”. “Dunia teater dipakai sebagai sarana penyadaran masyarakat agar lebih tajam melihat kemiskinan struktural yang sedang terjadi disekitarnya”. Ada jaringan kerja yang sudah mendunia untuk menyebarkan konsep ini. Dan, dukungan apa saja tersedia untuk orang atau lembaga yang ingin menekuninya. Amsal dan Ferri cukup potensial apabila dipromosikan ke jaringan tersebut --- tak perlu susah susah mencari dana ---Bahkan kalau mereka berkomitmen agar seluruh hidupnya diabdikan untuk dunia teater pasti tidak jadi orang melarat. Mereka harus berpikir bahwa untuk membeli sepeda anaknya, rumahnya dan mobilnya, dapat diperoleh dari pengelolaan dunia pertunjukan teater. Bukan berarti mereka harus membuang idealismenya Bukan mereka ditempah jadi manusia yang mata duitan alias materialistis. Mereka tetap memperjuangkan idealismenya, tapi bukan dalam kondisi yang melarat. Jaminan tidak melarat dapat diberikan oleh jaringan teater rakyat yang sudah mendunia. Asalkan mereka terus berkarya meningkatkan kapasitasnya, berjaringan dan terus menerus mempromosikan idealismenya.

“Saya setuju dengan apa yang diuraikan Pak Sintong “ Ari memecahkan suasana yang sempat hening. “ Saya lihat ini adalah kesalahan gerakan pro demokrasi mahasiswa”. Mereka menuduh semua pihak adalah agen neo-liberalisme. Terutama pemerintah dan LSM dituduh menjual kemiskinan Indonesia demi untuk kemakmuran hidup LSMnya ”.
Mereka menganggap seluruh LSM adalah kotor dan rakus duit. Sudah tak mau membedakan bahwa masih banyak juga LSM yang bekerja tekun dan sungguh sungguh ditengah tengah rakyat. Gerakan mahasiswa sama sekali tak perduli terhadap keanekaragaman watak perLSMan.
Padahal, setiap gerakan mahasiswa pasti dibiayai oleh elite politik demi untuk kepentingan politik elite tersebut. Jadi sebenarnya aksi mahasiswa sama sekali tidak pernah independent. Bahkan beberapa elite politik menjual agama demi untuk kemenangan politik. Bayangkan saja, ada slogan yang mengatakan bahwa meminum darah orang kafir adalah halal di hadapan Allah. Inikan slogan yang “GILA”. Membius masyarkat miskin melarat agar berani mengorbankan nyawanya demi untuk membela agamanya. Agama apa yang menganjurkan hal seperti itu ??. Seluruh agama berniat baik untuk memelihara dunia tetap harmonis tak ada permusuhan. Slogan itu sebenarnya musuh mahasiswa yang diharapkan memberi kontribusi terhadap dunia yang damai sejahtra.

Tapi, mahasiswa seenaknya saja menuduh orang lain menjual kemiskinan. Mahasiswa itu hanya sebuah fase dalam kehidupan anak muda yang di subsidi negara dan orang tuanya masing masing. Hanya pintar menghabiskan duit yang katanya demi untuk menimba ilmu. “Taik Kucing untuk mahasiswa yang mengaku pejuang moral” Taik kucing !! wajah Ari merah bringas hampir tak mampu menahan kejengkelannya. Mahasiswa tetap dalam keterbatasan waktu, keterbatasan biaya dan keterbatasan kapasistas. Bagaimana mungkin perubahan sosial di Indonesia dapat terjadi atas perjuangan mahasiswa yang penuh keterbatasan ? Bagaimana mungkin pelaku demokrasi adalah golongan masyarakat muda yang onani sosial ? HUA…HA.,.HA…HA.." Ari ketawa lepas dan puas terbahak bahak. Sementara Sisilia yang gampang sedih menundukan kepala nampak bingung terharu. “ Iya… sampai sekarang masyarakat sulit percaya bahwa mahasiswa yang menduduki gedung DPR MPR tahun 1998 yang lalu adalah mahasiswa yang independent”. “ Akibat reformasi Indonesia, justru kehidupan sosial politik ekonomi masyarakat Indonesi semakin anjlok. “Semakin sengsara”. Akibat ulah mahasiswa yang katanya pejuang moral menduduki gedung DPR MPR Pusat tahun 1998” Pak Sintong menggeleng gelengkan kepala. “Tapi, terlepaslah dari persoalan politik yang telah dan sedang terjadi”. “Apakah Sisilia dan Ary akan nonton teater Amsal” ?. Pak Sintong mencoba merubah suasana diskusi yang jadi serius menegangkan. “Saya usahakan,.. Pak” Ari masih lesu menjawab.” Saya memang tak berniat bercerita tentang gerakan demokrasi”. Hanya saja karena begitu derasnya keangkuhan slogan perjuangkan moral para mahasiswa, sehingga (mungkin) saja berhasil menutup mata Amsal dan Ferri melihat dunia teater yang lebih baik” Ari menguraikan alasannya yang gampang terbawa arus emosi. “Saya juga kepingin nonton mereka” Sisilia buka bicara. “Tapi, terpaksa tidak nonton dengan suami. Karena suami saya masih tugas di Menado”. Mungkin kalau sehat dan segar akan saya ajak adik ipar saya” Sisislia memang mengaku sering merasa lemas dan ngantuk kalau pulang dari sekretariat HRM dan tidak ada gairah melakukan kerja. “Tak usah dipaksakan Sisilia, mungkin keletihanmu pertanda hamil anak pertama”. Menjaga kesehatan tubuh jauh lebih penting” sosok pak Sintong sebagai orang tua yang baik budi jelas nampak dari ucapannya. Ucapan seperti ini sesekali saja diutarakan Pak Sintong, karena dalam kehidupan di sekretariat HRM Pak Sintong tetap menyesuaikan dirinya dengan pola tingkah laku para staf HRM yang jauh lebih muda. “Terima kasih pak Sintong ” Sisilia cukup mengerti perhatian Pak Sintong kepadanya yang baru menikah. “Ary, kita nonton ya…. Saya jemput kau malam sabtu ini” Pak Sintong menawarkan diri. “Iya pak, saya tunggu bapak dirumah”.

Ternyata Sisilia terlalu lemas sore itu pulang dari HRM sehingga tak bisa nonton teater. Ary sengaja membatalkan janji bertamu ke rumah keluarga calon istrinya. Pak Sintong juga terpaksa membatalkan niatnya melanjutkan penulisan buku demi untuk menonton teater. Otomatis hanya 2 tiket yang dipergunakan.
Di Taman Budaya para pengunjung tidak terlalu ramai. Sedikit saja perhatian masyarakat Pontinano terhadap dunia teater. Mungkin perhatian masyarakat masih tersita oleh biaya hidup keluarga dan menumpuknya pekerjaan kantor sehingga dunia teater belum mendapat tempat di hati masyarakat. Sehingga Amsal dan Ferri merasa kecewa dan lesu ketika dijumpai Pak Sintong. “Inilah kenyataan yang tak bisa kita pungkiri”. “Kalian tak perlu kecewa karena kita masih langkah awal menatap masa depan yang cerah” Pak Sintong senyum dikulum. “Terima kasih Pak Sintong” Ferri rangkul pinggang gendut Pak Sintong sambil masuk ke panggung pertunjukan. Ferri dan Amsal merasa senang bergaul dengan bapak tua yang nampaknya bersedia ringan tangan senang hati membimbing mereka.

Sound sistem panggung sangat minim sehingga para pemain harus berteriak teriak dalam dialog agar dapat didengar penonton. Drama dikutip langsung dari karya WS Rendra awal tahun 80 an berjudul “Orang Orang di Tikungan Jalan”. Bercerita tentang berbagai latar belakang orang orang yang selalu berkumpul menjadi sebuah komunitas baru yang teralineasasi dari masyarkat umum disebuah tikungan jalan umum. Ada friksi friksi antar mereka, kemudian ada tindakan amoral sexual dan beberapa perbedaan paradigma tentang hidup dan perkawinan. Alur cerita mengalir dengan baik karena kemampuan pemain menghayati acting cukup memukau penonton. Latar belakang panggung yang gelap sendu memberi kesan menyeramkan membuat penonton semakin menyatu dengan jalan cerita yang dipaparkan oleh pemain. “Cukup berhasil pertunjukan mereka ya Pak Sintong ” Ary beri komentar ketika Pak Sintong tekun melotot menonton pertunjukan. “Iya,…inilah yang membuat saya terharu”. Kemampuan teater mereka tak jauh beda dengan aktor aktor tingkat nasional yang sudah berpengalaman. Sedangkan mereka masih muda cukup potensial, oleh sebab itu sangat layak berkembang melalui dukungan berbagai pihak.” Pak Sintong kelihatan serius sekali sampai akhir pertunjukan. Teater ditutup dengan hadirnya seluruh pemain berbaris di depan panggung disalami para penonton secara bergiliran.
Ferri yang melihat pak Sintong menuju tempat parkir langsung berteriak: Pak,…pak Sintong” sambil berlari mendekati. “Besok malam selesai pertunjukan kedua, kita segera evaluasi”. Kalau bisa Pak Sintong datang dan membawa kawan kawan yang Pak Sintong nilai potensial mengembangkan teater”. Pak Sintong terkejut mendengar tawaran itu:Yah,… kenapa mendadak begini”. “Dan kalau sehabis pertunjukan ke dua berarti evaluasi dimulai paling cepat jam 8.30 malam”. Apa tidak terlalu malam ?. Rumah saya jauh, tapi saya usahakan datang”. Kemudian Pak Sintong gonceng Ary tinggalkan halaman parkir memutar motor tuanya.

Besok malam hujan deras Pak Sintong tak bisa keluar rumah. Otomatis tak bisa hadir pada evaluasi yang diselenggarakan Ferri sang ketua panitia. Selama seminggu komunikasi terputus karena Ferri dan Amsal heboh dengan urusan perkuliahan, daftar ulang semester genap. Sementara proyeksi sanggar teater komunitas kerja Institut Muslim Indonesia belum menunjukan titik cerah seperti yang digambarkan Pak Sintong. Ferri dan Amsal sangat menyesal kenapa mereka yang merindukan rencana kerja progresif belum juga mampu menyusun program secara profesionil.
Sedangkan Pak Sintong tak muncul di sekretariat HRM. Lima hari yang lalu dia dijemput mobil mewah BMW oleh dua orang perempuan bercadar sampai menutup seluruh wajah. Dan, sejak itu beliau tak pernah lagi muncul di HRM. Pernah dijenguk Indra ke rumah Pak Sintong tak jua jumpa. Tetangga katakan dua hari yang lalu ada pertemuan dirumah beliau. Ada sekitar 4 orang bapak ibu dengan identitas Islam yang sangat kental nampaknya mengadakan rapat penting. Seluruh tetangga heran, karena Pak Sintong yang gagal sekolah pastor hingga sekarang hidup membujang kenapa diramaikan oleh gerombolan Islam berciri fundamentalis. Tak ada yang bisa menebak kemisteriusan ini. Apalagi dalam dua minggu Pak Sintong tidak pernah lagi bertegur sapa dengan para tetangga. Subuh sudah berangkat tinggalkan rumah dan kembali lagi pulang ke rumah sudah larut malam,

Tapi pada awal minggu ketiga Ferri dan Amsal sengaja menjumpai Pak Sintong di sekretariat HRM. Mengharapkan ada diskusi panjang yang dapat memformulasikan gerakan teater sebagai sebuah sarana perubahan sosial.
Ternyata suasana HRM nampak senyap tegang, tak kedengaran lagu dari komputer Indra, Pak Sintong baru hari pertama muncul kembali di sekretariat HRM, Ibu Sisilia tak ada di HRM. Sedang keluar membeli keperluan sekretariatan, Ari ke lapangan monitoring perkembangan diskusi kelompok di desa Pringgan Mencirim, Asmi staf dokumentasi heboh menyusun laporan kegiatan di kamar kerjanya, Asep baru selesai mandi dengan rambut masih basah merapikan piring gelas yang berantakan karena tadi malam ada pertemuan HRM dengan JGPM (Jaringan Gerakan Pengembangan Moral) .
Suratan takdir nasib Pak Sintong terlalu buruk. Siang itu satu kompi militer menggrebek sekretariat HRM untuk menangkap Pak Sintong. Beliau dituduh sebagai instruktur para terroris yang berhasil merampok BAC (Bank Asli Cendana ) di Jl. Antah Bantoro no 15. Bungobandor. .
Besok pagi Indra pergi ke markas Korem menjenguk Pak Sintong. Tapi, beliau sudah tak ada ditempat. Besi jeruji dinding atas sel tahanan sudah terbelah. Pak Sintong berhasil melarikan diri dari rumah tahanan sementara, di Korem jam 3 subuh. Kemana lagi pak Sintong mengembara, Indra tampak bingung.

Kawan Kentalku si Bason

Anak ini memang aneh . Semua minat dan bakatnya dijalankan setengah masak tak pernah tuntas. Sehingga, segala hal yang dikerjakannya belum mampu membuahkan hasil yang dapat dipetik guna kepentingnya sendiri apalagi untuk kepentingan orang lain. Dan, hal itu terjadi sejak kami berkenalan sampai sekarang sudah berlalu 36 tahun. Bayangkanlah !!, betapa lamanya aku konsisten mengamati kawanku yang satu ini. Kontak kami tak putus, walaupun jarang sekali berjumpa. Aku di Halomaon ibukota propinsi Tupat pulau Soritau sedangankan kawanku Bason di Pamostang ibukota propinsi Jogai Pulau Ajontano .

Perjumpaan terakhir tahun 1995, 8 tahun yang lalu ketika ibunya meninggal dunia di rumah tempat kami dibesarkan. Sebagai dosen di Universitas Negeri dan beberapa Perguruan Tinggi Swasta tak begitu kesulitanlah aku membiayai keluarga yang masih tinggal di kota itu. Bason sudah tinggalkan kota kami 18 tahun yang lalu, tetap saja bekerja tunggang langgang. Kadang ikut partai politik, LSM, kontraktor,berdagang maupun membantu reporter mass media sambil membuka warung kopi. Bason mengaku hidup keluarganya belum menentu karena belum mendapat penghasilan tetap setiap bulan. Aku jadi prihatin melihat nasib buruk kawan lamaku ini. Banyak nostalgia kesan bermakna ketika remaja kami beriringan menyusuri garis kehidupan.
Bason kawin dengan seorang gadis anak penjudi dan garong yang keluarganya berantakan pada tahun 1995, sampai sekarang anak laki- laki masih satu orang umur baru satu bulan namanya Bara Rimba. Sense of filosofinya belum juga hilang ketika kudengar nama anaknya disebut. Sekedar ingin tahu lebih dalam kutanya Bason :” Kenapa nama anakmu aneh sekali”. “Kalau di rimba ada bara, pastilah rimbanya habis terbakar” Ha..ha…ha… Dia juga ketawa: “Ah !!! kau ini tak berubah sejak dulu” “Bara itu artinya semangat Rimba adalah kehidupan dunia yang ideal harmonis” Jadi anakku kuharapkan jadi manusia yang memiliki semangat memelihara kehidupan yang ideal harmonis”. “Kau kan tahu aku sangat mual tengok dunia yang terkotak kotak oleh kepentingan kelompok”. Suara nada lembut ciri khas Bason kembali lagi ku dengar setelah 20 tahun tak jumpa. “Sebenarnya kau harus kagum samaku” Katanya melanjutkan. Loh !!! kenapa ?. “Iyalah…, aku yang masih melarat ini masih sempat bermimpi tentang hal yang terlalu muluk Ha..ha…ha… kami berdua tertawa.

Sebagai kawan lengket bertetangga sejak masih taman kanak kanak pastilah aku bisa lihat luar dalam si Bason relative lengkap.
Mereka 4 bersaudara. Abangnya dua tahun diatas kami termasuk anak yang sangat tekun membaca. Sejak berjumpa langsung bisa kelihatan jelas sifat abangnya. Tak begitu menyatu dengan kami sesama anak- anak bermain setiap sore disekitar rumah. Kalau kami bermain kelereng atau main bola, atau layangan, Ripok (panggilan abangnya) hanya gabung sebentar kemudian undur diri pulang ke rumah, mandi dan segera memamah bacaan apa saja sampai larut malam. Tak perduli anak- anak sedang bergembira atau berkelahi atau ngerjakan apa saja. Ripok asyik menunaikan hasrat keinginan dirinya sendiri, dengan bacaan.

Si anak aneh kawan kental sebayaku justru kebalikannya. Dalam semua kegiatan kami seperkawanan pasti Bason terlibat sepenuh penuhnya sehingga tak ada bagian jiwanya yang tertinggal untuk menikmati permainan. Bahkan selalu tampil didepan. Mobiltas serta ketangkasannya bergerak lebih tinggi dibanding kami seperkawanan. Kalau ada layangan yang putus Bason secepat kilat lari terdepan dengan tangkas melompat meraih layangan itu mendahului kami. Dia selalu menjadi orang pertama mendapatkannya. Sedangkan adiknya dua tahun dibawah kami adalah manusia mabok mengkoleksi. Memang tidak seperti Ripok yang takut kehilangan waktu membaca gara gara terlalu asyik bermain. Doar masih menomorduakan kecintaannya mengkoleksi benda benda jika dibanding bermain main. Ketika aku ke kamarnya tahun 1972 kelas 5 SD, koleksi kaos kaki 5 tahun yang lalu masih ada. Semuanya rapi tertata di box kaca samping tempat tidurnya bersama koleksi perangko, sampul buku, dll.
Biuti bungsu perempuan mereka yang manis macam kaum aristokrat, fanatik sekali memelihara keindahan rumah. Lantai rumah, kursi tamu dan beberapa hiasan dinding dan interior rumah sama sekali tak ada yang berabu jorok . Semua dibuatnya wangi mengkilap macam kaca Dan tentulah sering bertengkar dengan Bason kawanku yang jorok semberono.

Aku nilai perumahan kami ketika anak- anak adalah surga yang indah. Perumahan itu mulai kami tempati awal tahun 1967. Ada 12 rumah bertingkat yang waktu itu boleh dianggap agak lumayan. Karena belum terlalu banyak bangunan kantor, rumah, tempat hiburan yang permanent berfungsi dengan baik. Negara bersama sama penduduknya masih repot merapikan sisa sisa kerusuhan negara yang terjadi tahun 1965 G30S.
Ditempat kami bermukim, sisa - sisa kekerasan G30S memang sudah tak begitu kelihatan. Itu makanya kami yang masih anak- anak agak bebas merdeka menikmati dunia ini. Memang tidak mewah gemerlapan macam anak- anak bangsawan, tapi, tidak juga menderita melarat seperti anak- anak Indonesia pada umumnya. Perumahan kami adalah kumpulan kaum borjuasi yang sedang menata ke profesionalannya. Para orang tua adalah pekerja swasta level menengah ke atas.

Dalam interaksi, kami bisa seenaknya masuk kerumah tetangga dan ngobrol santai di ruang tamu dengan kedua orang tua kawan, sambil menunggu anaknya datang. Kemudian seenaknya buka lemari makan tanpa segan colek sedikit lauk pauk keluarga dan masuk ke kamar kawan nyalakan tape recorder sambil tiduran. Kami sangat yakin bahwa akan diperlakukan sebagai anak sendiri oleh orang tua kawan.
Beberapa kali menonton pertunjukan/wisata keluar kota, biasanya beramai ramai serentak pergi. Masing masing bapak menggonceng anaknya naik sepeda motor ke tempat tujuan. Biasanya ayah Bason terpaksa harus 2 kali menggonceng ke 4 anaknya.
Tiada permusuhan, tiada keributan, yang ada hanya kebersamaan dalam kedamaian bertetangga. Di surga yang indah lingkungan rumah kami ketika anak- anak.

Sebelum masuk SD Bason sudah mengidap penyakit asma. Kalau asmanya kambuh, aku sering kasihan mendengar batuknya sampai larut malam. Suara ibu penuh kasih aku pastikan sambil membelai belai kepala Bason yang tersiksa, terdengar sayup sayup dari kamarku. Bason sangat tersiksa sekali. Tapi, untung keseriusan orang tua mengatasi penyakit asma menemukan jalan keluar. Bason secara intens berobat di shin-she Tiongkok yang baru buka praktek di kota Halomaon. Kawanku ini sembuh total kelas dua SD. Asma tidak akan kambuh lagi asalkan rutin berenang selama setahun. Maka sejak sembuh 3 x seminggu Bason tidak bermain bersama kami. Dia belajar berenang di kolam renang yang letaknya jauh dari rumah , diantar rutin ayahnya.
Ternyata, berenang adalah olahraga yang sangat diminati Bason. Kalau dia tidak berenang, sambil memberi teori- teori renang pasti Bason mengoceh bercerita panjang lebar dan terus menerus tentang nikmatnya suasana di kolam berenang kolam renang bekas tempat kaum penjajah Belanda berpesta pora menghabisi masa liburnya, sebelum kembali menyiksa buruh Indonesia di berbagai perkebunan karet luar kota Halomaon. Kolam renang yang sudah hampir seratus tahun masih dirawat oleh pegawai dengan disiplin Belanda yang ketat mengikat tegang. Disitulah Bason belajar renang.
Aku terpengaruh oleh promosi Bason. Kadang aku ikut naik motor ayahnya ke kolam renang membiarkan Bason berlatih dekat aku yang hanya bermain air.
Karena dinilai berbakat berenang, seorang pelatih renang minta Bason masuk club.Bukan saja sekedar berenang tapi dilatih dipromosikan menjadi atlit renang yang berprestasi.”Tak percuma kau belajar berenang, setelah setahun kau ditarik masuk club” Ayahnya gembira, karena hanya manusia kelas sosial tinggi saja yang layak masuk club renang. Oleh sebab itu semua pihak sangat antusias Bason dapat mengharumkan nama keluarga

Tapi, baru saja didaftar di klub, tiba tiba Bason sudah tak minat lagi berenang. Ditinggalkannya kebiasaan ke kolam renang, walaupun dipaksa keras oleh orangtuanya. Bahkan kadang sampai terdengar Bason bertengkar runcing dengan ibunya. Bason tetap tak mau pergi ke club renang karena menuntut agar dibolehkan bermain bersama kami sekitar rumah.
Kembali lagi seperti biasa Bason ikut bermain bersama kami. Kami sepermainan dirumah tapi berada pada sekolah yang berlainan. Ada yang sekolah Katolik, sekolah Metodist, sekolah swasta biasa, tapi tidak ada yang disekolah negri milik kaum awam Indonesia. Ada beberapa kawan sekolah yang sengaja datang naik sepeda berkenalan dan ikut bermain pada sore hari bersama kami disekitar rumah. Pergaulan kamipun semakin ramai berkembang karena dapat berkenalan dengan kawan sebaya dari sekolah lain. Datang membawa layangan atau bola kaki untuk sama -sama bermain bergembira ria dengan kami.
Satu sore sehabis kami membuat gelasan (benang layangan yang dilapisi gilingan halus kaca dan pelekat) untuk berlaga layangan, datang sekumpulan anak belakang rumah ingin juga bermain layangan di tempat kami. Mereka tak begitu fair dalam pergaulan, (mungkin) cemburu melihat kehidupan kami yang lebih sejahtra dibanding mereka para anak tukang becak dan buruh bangunan. Sama sekali tak ada niat kami merendahkan, tapi mereka sangat tidak simpatik datang bergabung. Ketawa-ketawa bercerita mengejek kami yang diam saja sedang membuat gelasan. Mendadak seorang anak memutuskan benang gelasan Bason secara diam - diam. Karena sempat terlihat, maka dengan tangkas ditarik Bason kerah baju anak itu. “Kenapa kau putuskan benang ini, Heh !!. " Anak itu ketakutan melihat wajah ganas Bason. Suasana menjadi tegang. Mendadak dipukulnya wajah anak itu, membuat sekawanan mereka bergerak melerai. “Sudah, biarkan saja “: kata Ripok yang belum pergi membaca buku. Tak berapa lama kumpulan anak anak itu pulang. Rumah mereka ada di belakangan rumah kami, hanya dibatasi oleh kawat duri yang bisa diangkat kalau mau jalan kaki. “Tak usah kita takut menghadapi mereka”. Pasti mulai besok mereka akan mengintai kita kalau jalan sendiri. “Ingin balas dendam” kata Bason.

Besok sore ketika Doar diminta ibunya membeli pisang ke warung belakang rumah melewati kumpulan anak yang kemarin. Doar dicegat, “Kenapa abangmu memukul adikku kemarin sore” Hey !!!. Mentang mentang anak orang kaya”. Dug !!, Dug !! Perut Doar dipukul. "Ah !!, ah.." Doar menjerit kesakitan. Kemudian datang seorang anak yang sudah SMP menempeleng Doar dua kali. Doar menangis pipinya merah memar membengkak membawa pisang ke rumah. Mengadukan nasibnya di keluarga sebelum makan siang. Bason langsung ambil parang dapur histeris mengejar anak belakang rumah. Terpaksa ayah ibu dan Ripok kelabakan pontang panting teriak menahan amarah Bason. Malamnya Bason mendapat bimbingan dari ayah ibu dan tetangga.”Kalau kau mau berkelahi jangan bawa parang” . "Itu orang bodoh yang tak pakai otak”. "Coba kalau tak ada yang meleraimu, pasti parangmu sudah mengambil korban” Ayahnya menasehati. “Kalau mau pintar berkelahi sekaligus menyehatkan badan, Om Yunus tetangga kita punya adik pelatih karate”.Ikut saja latihan dengannya” kata ibu memberi jalan keluar. Iya!!!, besok aku harus berlatih karate” amarah Bason belum juga reda.

Memang jelas, besok hari Bason sudah diantarkan bapaknya ke Balai Taruna tempat adik Om Yunus melatih karate. Sehabis daftarkan nama, langsung ke toko olahraga beli baju karate.
Minggu depannya sudah kami lihat Bason dengan semangat tinggi mengayuh sepeda menuju latihan karate. Latihan dua kali seminggu masih ditambah lagi les gitar bersama kawan sebangku di sekolah dua kali seminggu. Praktis hanya 3 hari dalam seminggu Bason bisa main dengan kami sekitar rumah.
Sekarang kami sudah kelas 5 SD, abangnya Ripok duduk di kelas 1 SMP serta Doar kelas 3 , Biuti kelas 1 SD sama sekali tak ada yang sesibuk Bason. Paling paling mereka hanya 1 kali seminggu dibawa orangtuanya ke toko buku/mainan lantas ke Restoran Cina makan bersama. Jatah Bason tak ikut keluarga ke toko buku sudah menjadi konsekwensi yang digariskan .

Cara mendidik ayahnya yang terlalu patuh di sekolah Belanda pada zaman dahulu masih juga terbawa bawa dalam mendidik anak anak. Ini komentar ayahku yang kadang jengkel tengok keluarga Bason : “Keluarga mereka seolah hidup dimasa kolonial dulu”. ”Seluruh hidup ini perlu disiplin, makanya kau jangan sembarang ke rumah mereka”, inilah petuah ayah kalau aku terlalu banyak main diluar rumah.
Tapi, aku sangat simpatik dengan tata krama dan norma norma yang digariskan oleh keluarga Bason. Aku merasa cukup dihargai sebagai seorang anak masih punya cita- cita dan jalan hidup yang masih panjang. Orangtua Bason kunilai menata mental phisik intelegensia kami dengan baik dan benar. Tidak macam orang tuaku yang tak pernah memeriksa kehidupan kami di sekolah maupun dirumah. Anaknya ada PR atau tidak ayahku sama sekali tak perduli. Tidak seperti ayah Bason yang paham kondisi anak anaknya secara mendetail. Ini keberatanku melihat kondisi rumahku.

Atas hasutan kawan sekelas Bason kembali lagi diajak les gitar 2 kali seminggu. Baru 2 kali les, Bason sudah nuntut dibelikan gitar dan langsung dipenuhi orangtuanya. Sebuah gitar klasik mereka Yamaha buatan Jepang harga selangit tak pernah lepas dari tangan Bason setiap malam. Diakhir kelas 5 Bason terpilih ikut bermain gitar sebagai selingan orkestra gereja dari Belanda manggung di Balai Budaya. Sebuah pertunjukan yang sangat bergengsi di kota kami pada waktu itu. Eh!!! Si Bason kawan karibku sama sekali tak tertarik. Dia menolak kesempatan emas itu, padahal sehabis konsert itu ada tawaran murid les gitar kota kami berlibur ke Belanda. Jengkel benar ayahnya, sementara Bason tetap saja tampil tanpa beban mendengar ocehan ayahnya. “Kenapa kau tak mau ikut tampil ?. Ah !!! ngapain ??. Mereka itu sok jago sama orang Indonesia” Mereka sepele , aku muak”. Heran aku tengok cara berpikir Bason. Entah untuk apa jauh jauh dipikirkan si Belanda bekas penjajah itu. Pokoknya kalau ada kesemptan berkembang yah…manfaatkan saja, tak usah berpikir jauh- jauh tak ada gunanya.

Dan sejak saat itu Bason berhenti dari les gitar. Tinggal latihan karate saja yang dijalani dengan tekun. Bason sudah menyandang sabuk coklat dan cukup diperhitungkan di perguruan karatenya. Karena diantara 5 orang anak SD penyandang sabuk coklat, Basonlah yang paling dielus elus menjadi calon karateka ternama nantinya. Pada usia muda belia Bason sudah menjadi asisten pelatih untuk melatih sabuk putih.
Pada acara perayaan ulang tahun perguruan karate, Bason diminta ikut tampil mengisi acara. Kembali lagi Bason mengulah tak mau tampil dalam acara itu. “Aku bukan malu tapi entah untuk apa sok pamer jurus karate di muka umum”. “Karate itu “kan bukan untuk dipamer- pamerkan”, ini alasan Bason tak mau tampil. Lantas sudah bisa kita duga bahwa Bason berhenti dari latihan karate. Dia tetap saja tampil tanpa beban, tapi kali ini sudah habis sabar ayahnya. “Sejak sekarang jangan lagi kau minta duit untuk les atau latihan ini itu” Sama sekali tak kau hargai duit yang sudah habis untukmu”. “Semuanya hanya untuk buang uang saja”. BUANG UANG !!! Teriak itu memecahkan suasana senyap. Ayah marah sekali. He…he…aku hanya berpenampilan penuh penyesalan saja ketika sore itu dibentak ayah. Sebenarnya perasaanku biasa - biasa saja. Inilah pengakuan Bason kepadaku. Orang tuanya begitu sayang dan serius untuk kemajuannya, tapi Bason tak menghiraukannya. Dingin tanpa ekspresi saja dia menanggapinya. Dalam hati aku berpikir: “Untunglah ayahmu agak kaya, sehingga uang bulanan untuk latihan karate, gitar, renang dll tak begitu dirasa menggangu uang dapur”. Coba itu terjadi samaku. Pasti leherku sudah dicekek ibuku sampai aku mampus tak bernafas” He…he…he.. “Uang pas pasan kau masih tidak serius” pasti ibuku marah besar dan berkata begitu.

Menurut ceritanya, dikelas Bason tak begitu berprestasi. Nilainya hanya sedikit diatas rata rata, tapi kebiasaanya mengisengkan guru luar biasa. Pernah guru datang terlambat membuat murid murid mulai resah, Bason tampil kedepan kelas: “Kita hukum guru kita ya..”. “Aku letakan paku payung di bangkunya, “Biar dia terkejut dan pantatnya tertusuk paku kecil ini”. “Paku kecil tak membahayakan”. Jangan ada yang mengadu, yaaa.…” Bason letakan paku payung itu dibangku guru. Guru datang dengan santai dan langsung duduk di bangkunya. “Aaii…., guru menjerit kecil langsung melihat paku payung itu. “Siapa yang buat ini”. Hey!!!. Guru marah. “Kalau tak ada yang mengaku,… kita tidak belajar hari ini”. Suasana kelas diam mencekam. Semua anak melirik Bason dan terpaksa secara berlahan Bason angkat tangan. Siang itu dia disuruh datang ke kantor guru yang menyerahkan sepucuk surat untuk disampaikan ke orang tua. Rupanya orang tua Bason diminta hadir ke sekolah besok hari. Kembali lagi kuping Bason disengat petir menggelagar suara ayahnya. Dan, kembali lagi Bason santai saja menghadapinya.

Kelas akan menjadi kuburan massal kalau Bason tak sekolah, begitulah pengakuan Enal kawan sekelas Bason yang selalu bermain ke lingkungan rumah kami hampir setiap sore.
“Kelas kami sunyi senyap seperti tengah malam tak kedengaran suara. “Yang kedengaran hanya suara burung hantu, yaitu suara guru mengoceh”: kata Enal kawan dekat yang selalu mendukung Bason mempermainkan guru.
Wajah tampan Bason juga memikat hati gadis muda belia di kelasnya sama seperti dilingkungan rumah kami. Tapi, dasar namanya si Bason sama sekali dia tak perdulikan rasa simpatik kaum hawa itu. Acuh tak acuh walaupun sering mendapat hadiah gratis sepotong coklat atau kue keju yang mahal dari gadis muda belia pertanda memberi simpatik..
Tapi, tinggi sekali penghargaan Bason terhadap suasana bermain. Aku pernah baca buku Chalie Chaplin pelawak dunia yang sangat terkenal itu. Waktu beliau masih kelas 5 SD sedang asyik main bola dipanggil pamannya: “Chaplin ibumu meninggal dunia”. “Oh…ya..”, Chaplin hanya menjawab singkat lantas kembali lagi bermain bola sampai bubar. Setelah itu baru dia menangis meraung raung didepan jenazah ibunya. Kita nilai Chaplin seolah tak menghargai ibunya karena terlalu menghargai dunia bermain. Watak itulah yang membuahkan hasil luar biasa karena Chaplin menjadi sangat tersohor di dunia ini berpuluh tahun. Bason mungkin hampir sama dengan Chaplin soal penghargaan terhadap dunia bermain.

Kisah bermain seperti menjadi sesuatu yang kekal di dunia kami. Sampai tamat SMP 1977 kami tetap selalu bersama sama di lingkungan pergaulan sekitar rumah. Sejak awal belajar naik sepeda mini untuk anak kecil, kemudian beramai- ramai bersepeda besar, sampai sekarang sudah naik sepeda motor, kami tetap solid berkawan akrab. Ripok adalah warga kami yang mulai belajar naik motor ke sekolah bersama Bason. Sedangkan Doar dan Biuti masih diantar ayah ke sekolah yang sama. Biasanya mereka beriringan pulang pergi sekolah. Sambil belajar naik motor, dari simpang menuju jalan utama. Bason yang menggonceng Ripok pulang pergi. Dan, Ripok yang menggantikan Bason membawa motor itu di jalan besar yang ramai. Bason belum diperkenankan sang ayah bawa motor di jalan besar.

Aku sebagai anak sulung keluarga 6 bulan kemudian dibelikan ayah motor seperti motornya Ripok sebagai kenderaanku pulang pergi sekolah bersama Tutin adik perempuanku yang agak pemalu kawan kental Biuti adiknya Bason. Aku belajar motor bukan dengan orang tuaku, tapi dari Ripok yang tekun membimbing ku sampai aku mahir seminggu penuh setiap sore.
Secara diam- diam aku banyak belajar dari Bason tentang cara memberi penghargaan terhadap adik perempuan. Biuti sering mendapat bingkisan kotak pensil manis atau buku/notes maupun pisang goreng yang dibeli Bason dari hasil tabungan uang jajan. ”Aku sering bikin jengkel Biuti karena membuat rumah kotor setelah dia heboh merapikannya” kata Bason sebagai alasannya memberi Biuti bingkisan hadiah kecil. Sayang sekali dia kepada adik perempuannya.

Sebagai ibukota propinsi di negara yang tergolong development country akibat hegemoni kapitalisme yang mabok menyeragamkan cita rasa penduduk dunia ini, Halomaon kota kami tercinta sudah tentu terkena biasnya. Sejak akhir tahun 1978 disana sini sudut kota mendadak terlalu banyak dibangun pusat pusat perbelanjaan. Penduduk desa terdorong modernisasi hingga bernafsu hijrah ke kota besar meninggalkan pekerjaan petani. Watak komsumtif agar kekuatan modal makro ekonomi negara terpusat di kota -kota besar adalah strategi neo kapitalisme menghancurkan ekonomi rakyat.
Terasa semakin hiruk pikuk padat sekali kendaraan, apalagi di pusat pusat kota. Masyarakat umum sekarang dengan gampang mendapat kemudahan kredit memperoleh sepeda motor yang agennya bertaburan dibanyak sudut kota.
Otomatis langsung berkesinambungan, bermunculanlah club/perkumpulan anak- anak ABG dengan aneka kegiatan bermotor. Ada Pale Club. Ini club anak SMA yang tinggal di tengah kota. Anak remaja SMA kaum kaya raya level paling atas di kota Halomaon yang bergabung dengan orang dewasa pengelolah radio amatir, club sepatu roda skateboard (permain anak kelas atas pada waktu itu) . Segala anak pejabat pengusaha ternama serta anak tuan tanah bergabung di Pale Club . Itu makanya, 80% anggotanya sudah pakai mobil mewah sebagai kenderaan pribadi. Ini yang menyebabkan rendah diri club- club di Halomaon apabila berhadapan dengan Pale Club. Berikutnya Genekh and Co, kalau ini kumpulan ABG yang dekat dengan organisasi organisasi pemuda dan preman. Oleh sebab itu para anggotanya terkesan liar, bebas sex, mabok- mabokan, bersekolah sama sekali tak serius dan selalu menjadi raja jalanan. Genekh sudah punya bengkel pribadi serta distributor onderdil sepeda motor. Genekh and Co juga club yang terkenal jago berhantam sadis dan berkeliaran di jalan -jalan kota pada saat jam belajar sekolah berlangsung. Mereka kurang fair ngebut di jalanan. Apabila ada anggota club lain yang mendahului mereka, atau ada anggotanya yang jatuh terluka ketika ngebut, jangan harap bisa selamat. Pasti lawan ngebutnya dipukuli habis -habisan.

Kamipun ketularan mendirikan organisasi: Campino and Coy Kalau libur kami sepergaulan alias seputaran rumah memang selalu mendaki gunung dan camping di pedalaman desa. Tapi, setiap sore jalan terus keliling kota kadang ngebut kalau jumpa dengan saingan club lain. Tak ubahnya club club ABG yang begitu semarak di kota kami Halomaon berbondong - bondong naik motor berkeliling kota. Biasanya kami kembali kerumah sebelum magrib tiba dan tidak lagi keluar rumah. Itulah yang memubat Campino and Coy mendapat hormat disegani oleh club - club lainnya. Karena kami taat tertib berdisiplin membuat orang - orang tidak sembarang berhubungan di Campino and Coy.
Pada tahun ajaran baru tahun 1979, Ripok sudah kuliah di fakultas pertanian Universitas Negeri Liandri pinggir kota Halomaon. Aku dan Bason sama - sama kelas 2 SMA di sekolah berbeda, Bason telah mendapat motor baru untuk kebutuhannya dengan adiknya Doar. Doar sama sekali tak berminat ikut bergerombol jalan ­- jalan sore bersama kami. Doar, ibunya dan Biuti asyik dengan kegiatan menata halaman belakang rumah mereka yang cukup luas penuh bunga
Ketika bergerombolan kami naik motor santai kecepatan rendah baru saja masuk jalan utama , Bason terselip dan jatuh oleh anak Genekh and Co yang sudah mabok oleng bawa motor. Bason bangkit marah langsung melaju sangat cepat mengejar gerombolan Genekh. Kami yang 5 motor beriringan sama sekali tak mampu menghadang maksud Bason
Dari jarak sekitar 200 meter kami lihat dari atas motor kecepatan sangat tinggi Bason pukul anak Genekh sekuat tenaga. Korban jatuh terseret terjerembab jauh. Kemudian Bason dikejar 4 motor lain membiarkan korban bangkit berdiri oleng sendirian melawan kondisi maboknya. Kejaran mereka tak berhasil melawan kecepatan Bason.
Sebelum masuk ke perumahan, kami sengaja berhenti membersihkan tangan Bason yang terluka jatuh. Segala bekas motor dan Bason yang terjatuh tidak lagi terlalu kelihatan setelah bubar sampai ke rumah masing - masing.

Makan malam sekeluarga sekitar jam 7.30, rumah diketuk lembut. Biuti menyusul ke pintu, “Selamat malam dik,” kata seorang muda berwajah sopan. “Selamat malam, Bang. Mau cari siapa Bang Biuti kebingungan. “Ada Bason, saya abang kawan sekelasnya”. “Oh, ya… silahkan masuk Bang” Biuti segera ke meja makan panggil Bason. Sementara si abang tamu tak bersedia duduk diruang tamu. Dia tetap berdiri tegak dimuka pintu rumah. Baru saja Bason di depan pintu lehernya sudah dipiting sekuat tenaga ditarik keluar rumah. “Waddduuhhh…” Bason kuat menjerit kesakitan. Langsung sang tamu misterius itu melarikan motornya dengan kecepatan tinggi. Aku serentak keluar dengan seluruh keluarga Bason. Perutnya ditikam pisau belati 2 kali. Darah bercucuran membasahi baju dan tubuh, kemudian Bason pingsan secepat kilat digotong naik oplet milik tetangga. Semua tetangga bermunculan panik resah menyaksikan akibat dari perbuatan sadis brutal secepat kilat. Di rumah sakit Katolik Santa Theresia malam itu dirawat. Bersama Ripok serta perlengkapan sekolah besok hari, kami tidur di rumah sakit. “Sebaiknya kita proses saja kasus ini ke polisi” Om Jenggot kasih usul ke ayah Bason pada siang hari di rumah sakit. “Ah,…sudahlah pak, bikin repot saja berurusan dengan polisi”. Kiranya Bason cepat sembuh seperti sediakala, itu saja harapan kita” Sang ayah memelas menolak halus usul om Jenggot. Om Jenggot nampaknya tidak kecewa karena sudah cukup maklum watak polisi Indonesia yang rakus duit dalam menjalankan tugasnya. Padahal untuk memudahkan investigasi kami dapat membantu. Karena Campino and Coy yakin bahwa yang nusuk perut Bason pasti anggota Genekh yang bisa dilacak.

Pulang sekolah Sherly kawan kelas Bason yang sangat naksir berat menjenguk ke rumah sakit bawa jeruk diantar supir pribadinya. Bahkan setiap hari selama seminggu di rumah sakit Sherly datang bersama berbagai bingkisan. Termasuk bingkisan untuk aku dan Ripok yang pulang pergi sekolah rela bermukim di rumah sakit.
Hampir dua minggu Bason absent sekolah. Cukup banyak ketinggalan mata pelajaran, apalagi kalau Sherly tidak kasih pinjam buku dan tekun melayani Bason setiap sore datang ke rumah. Kadang Bason merasa risih merespon perhatian Sherly yang sangat besar sekaligus dinilai berkelebihan. “Bason, besok mau dibawakan makanan apa?” Sherly memberi tawaran “Ah,…sudahlah Sherly tak usah merepotkan”. “Aku sudah sembuh kok” Bason menjawab dengan nada suara setengah jengkel. Kamipun heran kenapa Bason tak membalas cinta Sherly anak orang kaya pintar cantik bersih, baik jujur dan tak mampu menahan ekspresi kecintaannya terhadap Bason. Belum termasuk Diah kawan sekelasku yang langsung terpukau lihat Bason yang datang menjemputku ke sekolah. Setelah aku ditanya terus menerus setiap hari tentang Bason, Diah pernah sengaja datang mengajak Bason makan sama di restoran. Secara halus dan penuh harap, Diah langsung menyatakan cintanya ke Bason. Atau Yosi kawan tetangga kami yang sejak kecil tak henti hentinya memberikan perhatian sangat istimewa untuk Bason. Dan, kami sangat yakin sebenarnya berpuluh gadis berjejer mengharapkan cintanya dibalas Bason. Semua dianggap kawan biasa saja oleh Bason, tak ada yang diangkatnya menjadi permaisuri. Dijadikannya pacar, karena hal itu adalah lumrah sebagai kebutuhan ABG pada umunya. Apa mungkin dianggapnya pacaran akan menyita waktunya berkegiatan dengan kawan kawan sesama lelaki, sehingga harus dihindari ? Atau pestolnya tak bisa hidup, tak selera tengok perempuan ? Kami tak ngerti sikap Bason tentang berpacaran
Nasibku jauh berbeda dengan Bason. Setengah mampus aku mengejar Vivi kawan sekelasku yang tak begitu cantik dan tak begitu menarik (menurut banyak kawan). Sampai sekarang masih saja aku bertepuk sebelah tangan, cintaku tak dibalas padahal Vivi juga mungkin tahu aku sangat serius mencintainya. Tapi, dibiarkannya aku menderita sendirian dan aku yakin seandainya Vivi jumpa Bason, pastilah dia langsung jatuh cinta.


Sebulan setelah terluka, Bason sudah pulih kembali berkegiatan seperti semula. Jalan jalan sore naik motor keliling kota sampai capek lalu berhenti, gabung ngobrol bersendau gurau di beberapa kumpulan ABG. Nonton film ke bioskop, makan sama di warung tempat parkir aneka ABG atau secara khusus bantu menjajaki cewek yang dicintai kawan.
Sampai naik kelas III SMA, kami atas anjuran semua pihak diminta agar memberikan perhatian yang lebih baik lagi terhadap pelajaran sekolah. “Paling sedikit pada semester II kalian harus sudah ikut bimbingan test” “Supaya bisa masuk ke universitas terbaik di negeri ini” kata Om Tampu tetangga kami yang anaknya masih kelas 1 SMP. Begitulah kami melihat perumahan kami ini adalah surga yang indah. Bapak yang anaknya masih SMP saja memberi perhatian terhadap anak anak tetangga. Kami sudah terukir menjadi sebuah keluarga besar yang kokoh. Sakit suka dirasa sama diantara kami bertetangga warga pemilik surga dunia
Sore itu aku dan Bason sedang keliling mencari tempat bimbingan test yang terbaik di kota kami. Motor sengaja berjalan pelan sambil bercerita sepanjang jalan. Tepat ditikungan patah Jl. Dipanegoro/Jl Jendral Sudirman kami menunggu lampu merah berhenti. Dua oplet ngebut masuk tikungan. Oplet belakang yang bringas ingin memotong dengan cepat jadi terseret keluar jalur menabrak kami yang sedang diam. Aku terpelanting dengan tangan terluka, sedangkan tubuh Bason dipenuhi pecahan kaca jendela oplet menggelepar gelepar. Seluruh wajah tampannya tersobek sobek oleh kaca jendela samping kanan oplet. Simpang jalan itu macet, Bason yang menggelepar segera diangkut ke oplet yang satu lagi bersama aku yang diangkat dalam keadaan terpelongo tak bisa berpikir. Kembali lagi RS Katolik Santa Theresia menerima pasien Bason yang belum sadar. Kemudian, oplet mengantarkan aku ke rumah sakit yang lain. Terakhir aku tahu bahwa atas saran suster, sebaiknya tidak berada dalam rumah sakit yang sama dengan Bason. Karena stress nya akan sulit sembuh kalau tahu nasib Bason yang hancur total di rumah sakit yang sama.
Aku hanya seminggu di rumah sakit : “Risma”. Adikku katakan aku pernah menggigau sambil memegang tali sarung bantal: ”Kalau Bason mati aku akan bunuh diri dengan tali ini” kemudian aku nangis meraung raung. Keluarga sudah takut kalau aku jadi gila gara - gara Bason. Syukurlah sembuh dan kelihatan sekali kawan kawan serta keluarga sengaja tidak mau cerita tentang kondisi Bason yang sebenarnya. Mereka katakan saja Bason sudah bisa cerita dari atas tempat tidur. Aku tak percaya tapi tak dibolehkan melihatnya. Aku jadi jengkel dan merasa susah sekali.

Terakhir aku baru tahu bahwa kawan kentalku itu ditangani 5 dokter spesialis. Spesialis tulang, THT, bedah, bius dan syaraf. Bason tidak sadarkan diri selama 2 minggu. Makanan, vitamin dan obat dimasukan lewat selang infuse. Kepalanya harus dibotak agar batok kepalanya yang robek bisa dijahit. Wajahnya penuh jahitan karena pipi kiri, hidung kening dan diatas matanya koyak semua. Lengan kanan patah, lutut kiri keseleo dada banyak bekas luka akibat pecahan kaca. Geger otak harus istirahat total selama 3 bulan. Dua bulan di rumah sakit dan 1 bulan di rumah. Ternyata phisik dan psikies Bason cukup mantap. Baru saja 2 hari di rumah, dokter sarankan Bason sudah boleh masuk sekolah asalkan tidak berkegiatan setelah pulang sekolah. Harus istirahat total berada di rumah dan boleh berhenti belajar kalau terasa kepala pening..
Dalam keadaan masih botak Bason mendapat perhatian yang simpatik dari kawan kawan sekolah maupun guru. Keperluan Bason selama ketinggalan pelajaran segera dipenuhi oleh mereka. Hanya saja niat kami sama - sama mendaftar bimbingan test tidak bisa terwujud. Kami tak bisa bergoncengan sambil ngobrol panjang diatas motor pulang pergi dan keliling kota sebelum dan sesudah bimbingan test. Sedih juga aku dibuatnya.

Dari hasil rapat guru dan hasil konsultasi ke dokter maka diputuskan Bason diperkenankan ikut EBTA SMA 1981. Sang ayah sangat bersyukur karena beliau khawatir kalau saja harus tinggal kelas Bason bisa frustasi. Sudah frustasi wajahnya bopeng bekas jahitan akibat ulah supir oplet, harus pula frustasi karena tidak boleh EBTA. Bason masuk ke kamarku siang itu langsung dipeluknya aku setelah menerima kabar bahwa dia boleh ikut EBTA. “Tak apalah, walaupun nilaimu rendah, kau bisa ikut ujian masuk perguruan tinggi tahun ini” Kataku membesarkan jiwanya. “Iyalah,..kawan. “Sempat aku tak boleh ujian malu juga rasanya harus sekelas dengan Kela, Yumas, Nining, dll,dll sementara kau sudah kuliah” Katanya sambil tertunduk
Benar sekali nilai ujiannya semua angka 6 kecuali mata pelajaran olahraga. Semua pihak menghibur Bason agar tidak terpukul menerima hasil EBTA yang buruk, sedangkan Bason sendiri sama sekali tidak merasa sedih. Bason memang punya rasa percaya diri yang tinggi.
“Kau masuk fakultas apa dan universitas apa” ?. kata Bason. “ Aku mungkin pilih fakultas ekonomi Universitas Nusantara di Metrobeta”. “Hampir 100 tahun belakangan ini para pemuka ekonomi negeri ini di dominasi oleh alumnus universitas tersebut” kataku menerangkan. “Iya memang.., sejak kecil kau cukup kuat memberi perhatian terhadap ilmu ekonomi”. “Aku yakin kau berhasil” Kata Bason. “Nah,..kau masuk mana Son “ ?. “Yang jelas aku tidak dibolehkan angkat kaki dari Halomaon” Ibuku bilang aku harus kuliah disini, karena phisik mentalku sudah hancur gara gara tabrakan”. Bahkan aku disarankan untuk ambil program D3 saja. Bukan sarjana S1” : Bason nampak sedih. “Padahal aku kepingin mau masuk Filsafat atau Psikologi Universitas Postarol yang terkenal itu”.
Kami sama sama keluar dari kamar Bason setelah capek dengar kaset album terbaru Michael Frank. ”Jazz pop nya Michael Frank membuat kita terayun ayun melapangkan dada” Sudahlah, yok kita keliling kota, …yok, kataku sambil bangkit dari tempat tidur. Kamipun keluarkan motor dari garasi.
Nanti malam acara pesta perpisahan Campino and Coy di rumah Ari. Susan, Nita dan Ondang sejak minggu lalu sudah ngutip sumbangan dari seluruh anggota sekaligus sumbangan sukarela dari beberapa orang tua. Rencananya mau bikin ayam panggang pakai alat memasak tante Susan yang dikirim adiknya dari Eropah.

Minggu depan 70% warga Campino Aand Coy yang lulus SMA tahun 1981 sudah heboh melengkapi arsip, memfotocopi dokumen, legalisir ijazah, pas foto.dll untuk mendaftar ke perguruan tinggi. Hanya Bason yang harus tetap tinggal di Halomaon sedangkan kawan kawan yang lain akan masuk universitas yang lebih baik di pulau dan propinsi lain. Bason nampak sedih waktu kawani ambil ijazah ke sekolahku. Kesedihan itu masih kelihatan menyolok di warung si Buyung makan siang. Bason diam seribu bahasa dengan muka murung. membuat aku tak berani ngajak dia bercerita.
Pengumuman masuk perguruan tinggi tanggal 30 Agustus 1981. Aku diterima masuk fakultas ekonomi Unversitas Nusantara, Susan, Ondang, Ari, Nita juga akan hijrah meninggalkan Halomaon menuju kampusnya masing masing masing. Dela tak lulus, tapi akan pindah hanya khusus masuk bimbingan test di Metrobeta sebagai persiapan testing perguruan tinggi tahun depan. Bason juga lulus masuk program D3 Akademi Bahasa Asing tetap di kota Halomaon.
Kami berpelukan sedih di airport waktu aku diantar Bason. ”Sering seringlah kita berkirim surat yaaa..” kataku dengan suara tersendat. pedih. “Iyalah …Baik baik kau disana ya…” kemudian Bason ambil motor dari tempat parkir bergerak pulang ke rumah.

Bulan depan surat Bason sudah datang dengan keluhan yang pahit. Disini 80% kawanku berasal dari daerah kabupaten. Macam macam tingkahnya. Ada yang sok orang kaya berat pamerkan jam tangan mahal, baju mahal dan menuntut mahasiswa lain hormat kepada mereka. Masih nampak sekali kampungannya. Macam katak dalam tempurung.
Mungkin mereka tak pernah baca majalah atau koran sehingga isi kepalanya kosong melompong, tapi sok bergaya, sok tahu banyak tentang informasi yang berkembang. Padahal tak tahu apa apa. Dasar !!! di surat, Bason tak bisa menyembunyikan kejengkelannya.
Tapi, disisi lain ada juga celah kegembiraan. Ina anak Menado/Sunda alumni SMA Katolik tahun 1981 kasih perhatian besar untukku. Ina juga setengah hati saja kuliah disini, karena ibunya larang dia kuliah di kota lain. Sebagai anak tunggal pejabat bea cukai dengan senang hati antar jemput aku pulang pergi kuliah. Motorku terpaksa banyak nganggur di garasi.
Senyumnya mendebarkan aku sejak kenalan pertama.
Wah !!! ini sebuah perubahan yang cukup mendasar pada diri Bason yang selama ini tak ada perhatian sama perempuan. Apalagi pada surat berikutnya Bason menulis. Sudah kucium lumat bibirnya tiap isi absent malam minggu. Mantap kali kurasa sehingga aku kadang kelabakan mengendalikan pestolku yang mengeras Ha…ha…ha… Aku juga tertawa membaca suratnya. Cocoknya si Bason ini jadi sastrawan yang terus menerus menulis novel. Dan, aku yakin kalau dia tekuni pasti dia menjadi penulis yang berbobot. Enak sekali membaca surat suratnya, berarti dia sudah pulih dari kepedihan hidup yang dialaminya seperti saat terakhir kutinggalkan. Syukurlah,…Berita suka cita dari Bason semakin dalam mengesankan. Suratnya bercerita bahwa dia sudah pergi bersama keluarga Ina ke gereja setiap minggu serta makan siang bersama dirumah Ina. Ayah ibu sangat gembira melihat aku yang sudah semakin bersih bertatakrama dan bertingkah laku dewasa.

Enam bulan kemudian, pada minggu tenang persiapan ujian semester datang lagi surat Bason yang ke sekian kali. Agak tegang juga suratnya kali ini. Ditulisnya, sekarang sedang berkawan intens dengan seorang pastor unik. Bulan lalu aku berkenalan dengan pastor yang baru pulang dari magang di Amerika Latin. Amerika Latin di biara pastorannya ada pendidikan intelijen yang tidak diketahui oleh umum. Sangat tertutup sekali dan sangat rahasia. Sikap mereka kalau di negara kita sering disamakan dengan komunis yang dituduh menganut paham radikal revolusioner. Pastor itu pernah ikut rombongan 5 pastor setempat memakai jubah dengan leher dililit rantai besi berhadapan dengan militer yang siap menggusur ibu -ibu pedagang sayur mayur di pasar tradisionil. Senjata api lengkap satu kompi tentara siap meluluhlantakan para ibu melarat tersebut. “Berhadapan dengan kami dan jangan siksa ibu - ibu melarat ini” Kata pimpinan pastor itu di depan kompi tentara yang baru turun bergegas dari mobil operasi. Para ibu melarat menangis berteriak meronta histeris berada dibelakang para pastor. Ada seorang ibu yang pingsan karena sangat letih, hati terlalu tersayat terpaksa digotong dan dirawat dekat kios kecil.
Pada kesempatan berikutnya pastor itu berkata bahwa: “Mencuri roti orang kaya adalah tidak berdosa”. GILA !!! aku terkejut sekali, sehingga aku sempat khawatir apakah ini pastor benaran atau anggota islam fundamentalis yang menyusup ke gereja menjadi pastor. Lantas lama kelamaan mampu memahami kondisi luar dalam gereja secara mendetail. Setelah itu akan memporakporandakan gereja dan umat Katolik. Untung sebentar saja kekhawatiran itu terbit di kepalaku, karena ketika ku tanya uskup, dia bilang : “Ssstt…Itu pastor radikal yang tak usah disebut sebut dimuka umum”.
Setiap malam sehabis diantar Ina pulang kuliah, aku menemuinya di warung langganan kami. Pastor itu menyamar menjadi awam tak ada yang kenal dia dan dia diperlakukan seperti layaknya rakyat biasa.

Kalau soal tulis menulis yang berkaitan dengan obsesinya, Bason mampu memproduksi puluhan lembar kertas, tulis tangan. Mungkin karena dia menganggap penting menguraikan argumentasi sang pastor, ditulisnya : Di dunia ini, akibat dari ketidakadilan yang terus berkembang sampai ke kelompok masyarakat paling kecil, maka tak bisa lagi dipungkiri bahwa orang bisa menjadi kaya raya karena dia berhasil memiskinkan orang lain. Semakin banyak orang yang berhasil dimiskinkan semakin kayalah dia. Cara yang paling stategis untuk memiskinkan orang lain adalah melalui lembaga/organisasi : pemerintah, partai politik, LSM maupun lembaga agama. Nah, pastor itu badannya saja ada di organisasi gereja, sedangkan jiwanya liar bergerak kesana kemari ditengah tengah umat Tuhan yang tertindas. Jadi, kalau kita ambil harta orang kaya tanpa permisi, itu bukan berarti kita mencuri. Tapi, itu namanya merampas harta kita yang dicuri oleh orang lain. Kata pastor: “Itu tidak kena marah Tuhan Ha…ha…ha…”, Kali ini aku tak bisa ikut tertawa membaca surat Bason. Hati kecilku cemberut, walaupun bisa paham tentang apa yang dipaparkan Bason. Aku tak mau capek berpikir dalam hidup yang harus dinikmati keindahannya. Aku tak mau berpikir bersusah payah capek macam si Bason kawan kentalku yang aneh . Aku hanya simpatik melihat Bason, tak ubahnya dia sangat menghargai sikap hidupku yang bertolak belakang dengan sikapnya.

Universitas Nusantara fakultas ekonomi di Metrobeta adalah tempat mencetak ekonom ekonom negara ini. Sudah lebih 50 tahun republik ini merdeka, tetap saja menteri keuangan dan tokoh kunci ekonomi berasal dari almamaterku. Politik ekonomi negara mampu dikuasai almamaterku karena mendapat dukungan dari dunia internasional yang tetap menjalankan neo imperialisme. Nah…, kalau soal konsep hidup aku banyak sama dengan Ripok Setelah menjadi mahasiswa, Ripok kufungsikan menjadi perpustakaan. Dimataku mana buku yang baik dan mana buku yang tidak baik sangatlah ditentukan oleh pendapat Ripok. Dan, kalau Ripok kuminta pendapatnya, maka dengan lancar dan panjang lebar dia dapat menguraikan perbedaan perbedaan titik tekan setiap buku. Inilah yang membuat aku akrab dengan Ripok walaupun lebih hangat bergaul dengan Bason adiknya. Satu ucapan Ripok yang terus terngiang ngiang di kepalaku sejak SMA adalah: “Jangan kau baca buku buku si Bason itu” Semua bukunya berisi pikiran pikiran sesat” Cocoknya dia itu jadi komonis tulen” kata Ripok tanpa rasa bermusuhan. Aku hanya tertawa melihat 2 orang bersaudara kandung yang tubuh roh dan jiwanya selalu bertentangan.

Dalam surat Bason mengaku sangat buruk hasil ujian semester pertama. Ina menangis, apalagi Bason dituduh sudah menomorduakan dirinya setelah berkenalan dengan pastor gila. Untuk membahas keberadaan Bason, Ina sengaja berdiskusi panjang dengan ayah ibu yang juga aneh melihat tingkah laku serta watak Bason belakangan ini. Bason yang sama sekali sudah tidak perduli keluarga dan Ina. Sedangkan Biuti yang sangat sayang pada Bason selalu berusaha membela. Dinilainya Bason pintar bergaul sehingga beberapa tokoh masyarkat desa sering datang berkonsultasi.
Dialinea akhir suratnya Bason menulis: “Aku hanya bisa minta maaf untuk Ina ayah dan ibuku serta ucapan terima kasih untuk Biuti. Selama sebulan, mulai minggu depan aku akan hidup bersama masyarakat tepi pantai yang sebentar lagi ditanah mereka akan dibangun hotel hotel mewah dalam rangka mensukseskan program Tahun Kunjungan Wisata yang dikonsep pemerintah kita. Kuharap kau sukses terus menerus, dan carilah pacarmu agar semangat belajarmu tetap tinggi. Jabat erat kawan darah dagingmu Bason.
Wah!!! Ngapain pula dia ini hidup dengan masyarakat tepi pantai Sok pejuang yang membela rakyat ?. Apa tak mau kuliah lagi gara gara dihasut pastor gila itu ? Patutlah dia tak mau kasih tahu alamat pastor. Karena kalau aku tahu, pasti kuterror pastor yang merusak jiwa kawan kentalku . Sudah itu suratnya sok menasehati aku agar mencari pacar. Baru pacaran 3 bulan, sudah sok jago berkotbah agar aku mencari pacar. Aku geram membaca suratnya ini, tapi tak bisa bilang apa apa. Pernah aku surati kawan lamaku untuk tanya dan mencari alamat pastor yang disebut Bason. Kawanku katakan di gereja sekodya Halomaon tak ada yang namanya pastor Cevara Lubis. Aku jadi semakin bingung dibikin Bason.
Sebulan penuh surat Bason tak datang. Yang datang justru surat dari Doar yang membalas suratku yang sudah kulemparkan 3 x.

Betapa mendebarkan surat Doar. Bason dipenjara 4 tahun karena bersama masyarakat pinggir pantai unjuk rasa. Dengan Ina sudah putus dan kuliah tak beres. Singkat sekali surat Doar (mungkin dia sudah malas menceritakan Bason yang sulit diatur keluarga). Aku bisa pahami surat Doar yang singkat itu. Yang mengherankan, beberapa hari kemudian datang surat ayahku dengan kalimat yang lembut menceritakan Bason. Tak pernah ayah kasih perhatian yang baik untuk aku karena biasanya suratnya macam komandan batalion memeriksa prajurit di lapangan. Membuat aku sering sesak nafas di perantauan. Penuh dengan kalimat pendek dan tegas memberi instruksi. Kok !, kali ini lembut penuh kasih ?, kenapa ayah bisa berubah drastis?.
Dalam surat ayah katakan bahwa Bason tertangkap waktu mendekati mobil pejabat pemerintah yang datang mendadak meninjau lokasi akan didirikan 2 hotel mewah. Secara sembunyi sembunyi Bason bawa satu drigen bensin ingin membakar mobil itu lantas tertangkap tangan oleh militer. Dari pinggir pantai sampai ke koramil Bason dipukuli habis habisan. Malam hari kami jenguk dia dengan wajah dan seluruh tubuh bengkak bekas darah tendangan dan pukulan tentara.
Karena penasaran ada maksudku telepon interlokal Ripok mau tanya lebih lengkap kondisi Bason, tapi, kantor telkom jauh dan uangnya mahal, terpaksa aku batalkan maksud itu. Nanti saja habis ujian semester II aku dapat jatah pulang ke Halomaon. Saat itu aku bisa dapat informasi selengkap lengkapnya tentang Bason.

Untung hasil ujian semesterku sangat menggembirakan. Aku yakin ayah pasti puas dengan hasil hanya satu nilai B selebihnya nilai A. Ayah siapa yang tak senang kalau melihat anaknya berprestasi seperti aku ini… he…he…he..kulanjutkan menyusun pakaian pulang ke Halomaon. Sesuai dengan pesan Ripok aku sudah susun jadwal kegiatanku, anggarannya serta catatan harian selama berada di kampong. Jadi, selain kufungsikan sebagai perpustakaan, Ripok ini juga bertugas menjadi konsultan spiritualku. Pedoman hidup serta strategi mengatasi masalah atas saran Ripok terkenal sangat manjur dalam pengalaman hidupku.

Naik pesawat jam 4 sore biar sampai di Halomaon habis magrib suasana agak teduh. “Okelah Ripok besok saja kita cerita ya…” kukatakan ke Ripok yang akan pergi naik motor waktu aku baru saja turun dari taksi.
Dipeluk erat ayahku, sangatlah mengherankan, kemudian kami makan malam bersama. Ayah langsung masuk kamar membuat ibu bebas cerita : Malam itu Isim datang mabok ke rumah Ripok. Sebenarnya Isim jauh dari soal alkohol, tapi, kenapa malam ini mabok ?. Ayah intip Ripok dan Isim yang mabok, bercerita serius. Dengan kepala agak oleng kiri, kanan dan ucapan terbata bata Isim katakan: “Sejak kelas 1 sampai tamat SMA aku tetap rangking 1 – 3. Tak pernah diperdulikan ayahku”. “Sekarang nilai semesterku buruk karena aku masih sakit waktu ujian. Aku dipukul ayahku”. Apa aku ini binatang yang harus tampil hebat”. Uh…uh..uh.. Isim nangis curhat di depan Ripok yang tabah mendengar. “Akupun menyesal dapat nilai jelek semester lalu, uhh…uhh. Uh…
Nah !!! besok paginya ayah peluk mesra kedua adikmu . Perubahan mendasar terjadi, ayah sangat perhatian terhadap ibu dan dua adikmu, termasuk kau ditempat jauh. “Syukurlah,…syukurlah … kupikir ayah sudah tak bisa lagi berubah.
Besoknya jam 10 pagi aku sudah parkir di kamar Doar. Diiringi Shine on Grazy with Diamond Robert Plan kami ngobrol panjang. “Sebenarnya pastor Cevara Lubis melarang keras Bason bertindak brutal dalam unjuk rasa itu. Tapi, dasar Bason,… tak mau patuh, dia bertindak sendiri ingin membakar mobil pejabat. “Sekarang pastor sudah dikeluarkan dari biara dan tak tahu entah dimana berada” . Dipecat keuskupan gara gara Bason tidak patuh terhadap keputusan rapat terakhir di komunitas nelayan pinggir pantai.

Malam terakhir sebelum vonis pengadilan seluruh anggota perumahan berkumpul disini membicarakan jalan keluar kasus Bason. Ripok dan Om Yunus baru pulang dari lobby ke rumah jaksa, mengatakan bahwa vonis Bason 12 tahun, tapi kalau ada duit Rp 3 juta (harga 4 buah motor pada waktu itu) Bason hanya ditahan 4 tahun. “Terpaksa agak mahal sebab saya sebagai jaksa harus bagi rezeki ini untuk hakim dan staf pengadilan” Doar uraikan kronologis kasus Bason sehingga aku puas. “Kalau tentang Ina kau tanya saja langsung sama dia nanti sore”.
Doar ajak aku makan siang di kedai si Buyung langganan kami yang tak pernah kunjungi setahun, “Apa kabar, kapan datang dari Metrobeta ? rupanya Buyung masih ingat aku “Kemarin sore Yung, nanti sore dengan Ripok ke penjara lihat Bason” Kusambut hangat sapaan Buyung. Kemudian kami bercerita tentang kondisi perkuliahan di fakultas ekonomi unversitas Nusantara, karena tahun 1982 ini Doar akan daftar dialmamaterku.
Jam 4 tepat si kutu buku bermuka serius tak ada beda dengan kadet komunis yang selalu murung Ripok panggil aku ke rumah. Agak dipinggir kota rumah tahanan Bason, kami mendapat perlakuan istimewa dari sipir penjara. ”Ini semua akibat sudah disogok uang oleh kumpulan warga kita waktu rapat dirumah” bisik Ripok. Memang surga indah perumahan kami tak bisa dibantah lagi. Besar sekali perhatian setiap warga terhadap warga yang lain. Dilingkungan rumah yang lain pasti hal seperti ini tidak terjadi. Memang surga yang indah kata hati nuraniku.
Wah !! kapan kau datang”, Bason datang dengan sebatang rokok, buka baju pakai celana pendek sambil menyelah sisa keringat”. “Aku baru latihan karate bersama tahanan lain sekedar kegiatan hilangkan kejenuhan”. Tak terbesit sedikitpun perasaan tertekan berada ditahan, Bason tetap seperti apa adanya, bercerita hangat padat berenergi membuat aku sebentar bingung hampir tak sadar berada di ruang tamu tahanan. “Kau carilah pacar cantik, pintar kaya raya dan anak tunggal”. “Lantas kau doakan bapaknya cepat mati, biar kau jadi ahli waris tunggal bisa kaya mendadak” Tak perlu kerja keras untuk cari harta “Ha…ha…ha… Bason tertawa gembira sambil lempar senyum akrab ke sipir tahanan. Bason mohon aku kenalan dengan Ina, karena dia sering ceritakan tentang diriku sama si Ina. Okelah

Besok sore dikawani Naning kami ke rumah Ina. Terpukau sekali aku melihat manisnya Ina yang dengan luwes dewasa serta mengasyikan diajak cerita. Nampak sekali isi kepalanya padat ilmu pengetahuan informasi. Ina mengaku sedang backstreet pacaran dengan Sesep agama islam. Sementara Bason masih terus berada dilubuk hatinya yang paling dalam. Kami permisi agak bergegas, aku takut sebentar waktu lagi aku bisa jatuh cinta sama cewek yang memukau ini. Kubiarkan Naning bingung melihat tingkahku yang mendadak bergegas.
Besoknya nonton The Oldman in The Sea di bioskop langganan, makan pecal minum es campur MaK Jalal dekat simpang SMA Harapan, gabung dengan kawan satu alumni, semuanya kujalankan sesuai jadwal dan anggaran yang disarankan Ripok. “Supaya kau makin cerdas”, itu tambahan pesan Ripok..
Tak terasa sudah 8 hari di Halomaon, harus segera pulang ke Metrobeta ngurus daftar ulang, bayar uang kuliah dan persiapan lainnya, sekaligus siapkan diri menyambut Doar yang akan kuliah ditempatku.

Empat tahun kemudian.
Sinar mentari telah kembali terang didalam hati sanubari. Dahaga bebas merdeka telah hilang ditelan waktu. Bason keluar dari penjara tepat tanggal 25 Januari 1986 langsung malamnya ibu bikin acara syukuran mengundang warga tetangga dan keluarga dekat. Kebetulan aku dan Doar sedang libur di Halomaon, sedangkan Ripok dapat cum laude sudah kerja di departemen pertanian di kota Goboro 120 km dari Metrobeta tak bisa hadir, Biuti sudah mengajak calon suaminya hadir di acara tersebut. Nampak Bason senang sekali melihat calon adik iparnya yang klimis rapi bersih dan aristocrat macam Biuti. Hampir tengah malam sehabis acara ikut membantu merapikan ruangan, aku sengaja tidur di kamar Bason biar puas bercerita sampai subuh. Ayahku juga gembira melihat kami (mungkin) karena dia cukup paham kekentalan pergaulanku dengan Bason.
”Mungkin aku hanya 4 hari disini”. “Kata ayah, aku direkomendasi oleh pastor paroki, boleh ikut pendidikan bruder di Sinenuk”. Disini para calon rohaniawan katolik belajar dengan metode dan pola pendidikan alternative”. “2 bulan saja kuliah di ruang kelas, 10 bulan kemudian menyatu dengan masyarakat desa merumuskan pengembangan desa sekaligus mengantisipasi tengkulak, para pemeras rakyat miskin dan menolak system pembangunan pemerintah yang tidak sesuai dengan kebutuhan desa”. Bason menerangkan dengan gaya khasnya. Wah !!! cocok sekali pendidikan itu untukmu. “Yah, itulah harapanku. Kami tidak bayar uang kuliah, Biaya hidup dan biaya kuliah ditanggung oleh gereja”. “Kau sendiri bagaimana ? Bason alihkan pembicaraan. “Aku tinggal selesaikan skripsi bab terakhir”. Nanti aku cari kerja di Metrobeta, biar bisa jadi menteri yang menghisap rakyat yang kau bela Ha..ha…ha..” kami tertawa akrab.

“Bang Bason ini ada dua kaos pilihan pacarku” kata Biuti. “Ha…ha…ha…senang sekali aku lihat pacarmu tadi malam” dipeluk Bason si Biuti sambil membelai rambutnya. “Katakan padanya terima kasih, terima kasih ya.”.Bason genggam kedua kaos. Pagi ini perasaanku gundah gulana menyaksikan kehangatan keluarga yang sedang gembira terharu menyusuri sejuta langkah kehidupan.
Akhirnya Doar aku dan Bason simpulkan agar serentak saja berangkat dari Halomaon menuju Metrobeta. Nanti biar si Bason sendiri jalan ke Sinenuk 365 km dari Metrobeta ke arah timur mengurus sekolahnya.
“Abang jangan bandel lagi ya…, Biuti menahan nangis antarkan kami di airport, membuat ibuku jadi ikut nangis membelai rambutku.

Seperti sudah gampang dimengerti, Bason merasa sangat gembira berada di biara tempat pendidikan terjadi. Setelah itu bosan dan Bason akan tinggalkan kegiatan tersebut tanpa beban. Tapi, mudah mudahan kebiasan tersebut tidak terulang kembali.
Bason tuliskan : Ada jadwal seminggu para murid tak boleh bicara. Bunyi longceng jam 5 pagi seluruhnya harus sudah mandi. Jam 6.30 lonceng bunyi kami serentak makan di meja makan. Jam 7 lonceng bunyi kami tinggalkan meja makan masuk ke kamar masing- masing menulis ringkasan dari buku buku tebal : filsafat, ideology, antropologi politik,dll. Jam 11 lonceng bunyi kami ambil snack dan kopi masuk ke kamar lagi tulis lagi sampai jam 13.00 makan siang. Longceng lagi masuk kamar lagi baca lagi tulis lagi sampai jam 17.00 ambil snack dan kopi masuk kamar lagi. Jam 20.00 makan malam. Begitulah kegiatan seminggu hanya berkawan mesin tik dan buku buku. Minggu depannya kami murid 15 orang akan disidang secara bergantian mempertahankan makalah yang ditulis selama seminggu. “Asyik sekali hidup seperti ini, rasanya surga yang indah itu hanya sejengkal diatas kepala, begitulah surat Bason.
Aku juga terangkan kondisi terakhirku. Sudah selesai skripsi fotocopy 6 eksemplar tunggu dosen tanda tangani skripsi , sediakan uang bayar uang pelantikan dan seterusnya dan seterusnya. Agak menjenuhkan juga kerja kerja administratif seperti ini, tapi apa boleh buat, aku harus kerjakan. Aku ingatkan Bason supaya tetap serius belajar. Jangan lagi macam anak anak, sudah banyak pengorbanan berbagai pihak demi untuk kemajuanmu. Jangan kau kecewakan keluarga dan kawan kawan kita. Semua kami sayang sama kau.
Syukurlah sampai 2 bulan sebelum ditempatkan di desa, Bason masih menggelora karena dia adalah siswa terbaik dan mendapat perhatian khusus di biara. Baik diantara sesama siswa, juru masak tukang kebun maupun dari para dosen senior semuanya berlomba berinteraksi akrab dengan Bason. “Mungkin beginilah dulu waktu Charlie Caplin muda”. “Suka melawak menghargai perkawanan dan menghormati rasa kemanusian, pintar bekerja”: kata hati nuraniku mengingat buku yang pernah kubaca sekaligus membayangkan Bason kawanku di biara.

Dari desa 1 bulan tidak ada suratnya yang datang, aku sudah rindu juga membaca cerita Bason. Disamping rindu ada perasaan kawatir: “Jangan jangan Bason sudah keluar dari biara”. Tak jadi ke desa karena merasa bosan dan tak enak”. “Jangan jangan penyakit lamanya kambuh lagi”. Gawat !!!, aku jadi panik, maka kuhubungi Ripok yang ternyata punya perasaan sama dengan aku. Ripok sudah tak menerima kabar Bason dalam 2 bulan ini sama dengan ayah di Halomaon atau Doar yang ada disamping kamar indekostku.
Setelah seminggu kepanikan, akhirnya datang juga surat Bason. Maaf kawan aku terlambat membalas suratmu karena aku baru tahu letak kantor pos yang nun jauh dari desa kami. Aku ditempatkan di desa Litcato dengan hamparan sawah yang luas bersama Bruder Simon Guiliano tinggal dirumah kontrakan sudah lengkap dengan kompor, piring, gelas, tempat tidur, lemari. Kami gantian memasak, belanja, membereskan rumah, dll. Sang bruder harus ikut terlibat dalam pengembangan gereja setempat, sedangkan aku bebas bergerak tak mengemban misi keagamaan. Itu makanya Bruder Simon sering kesal lihat aku yang bisa interaksi bebas lepas diantara para gadis muda. Sedangkan dia sesuai dengan janjinya kepada Tuhan harus membiarkan pestolnya nganggur sampai akhir hayat. Bruder tak boleh kawin, apalagi kalau ingin melanjutkan pendidikan sampai pastor” Ha…ha…ha… Kurang ajar sekali si Bason, sudah keterlaluan isengnya terhadap calon pemimpin gereja. Apa bruder itu tak tersinggung ?.
Litcato desa dikaki gunung yang agak ekskusif sulit dijangkau kendaraan roda empat. Inilah yang membuat segala jenis barang mahal harganya dan ini pula yang membuat para tengkulak mencari kesempatan memeras penduduk. Ada tengkulak yang selalu menawarkan jasa kredit uang dan barang dagangan lemari, tv, tape, kuali cantik,dll,dll. dengan harga lebih mahal 300%. Aku ada rencana pinjam duit Ripok, kemudian aku beli barang barang dari kota dan kujual dengan harga jauh lebih murah dari pada pedagang yang selama ini memeras penduduk Litcato. Kurasa, secara macro sosok pedagang itu sama saja dengan watak negara negara kaya yang memberikan pinjaman lunak ke negara miskin. Lama kelamaan utang negara miskin semakin menumpuk sehingga ketergantungan negara miskin terhadap negara kaya semakin kuat. Maka eksploitasi ekonomi, penetrasi budaya dan dominasi politik diselenggarakan di negara miskin, atau dengan kata lain secara berlahan neo imperialisme terjadi. Inilah jasa universitasmu terhadap negara kita. “Dasar si Bason” !!! kataku sambil senyum menutup suratnya.

Memang benar Ripok beri uang pinjaman ringan kepada Bason dalam rangka memberantas para pedagang dan tengkulak di Litcato. Dengan senang hati setiap minggu Bason belanja tv, radio, kipas angin, tape. Bahkan kursi tamu, lemari baju. tempat tidur, ikan laut, daging kaleng atau apa saja kalau ada penduduk yang memesan. Dan, tentulah para tengkulak dan pedagang jadi terseok seok menghadapi Bason saingan amatiran yang mendapat simpatik penduduk.
Sekarang hanya tinggal seorang tengkulak saja yang bertahan masuk ke desa kami. Itupun hanya menagih cicilan utang yang belum dibayar. Kalau untuk menawarkan barang dagangan ke masyarakat sudah tak ada lagi yang berani bersaing dengan harga yang ditawarkan Bason.
Aku dan Doar ketawa membaca surat si Bason. “Pasti dia tawarkan barang dagangannya yang murah itu sambil melawak membuat hati pembeli puas” kata Doar. “Iya,..siapa yang tak senang” Sudah harga murah. dihibur pula dengan lawakan tanpa membayar” kataku menambahkan”.

Tapi kemenangan itu tak selamanya menggembirakan. Waktu Bason sewa colt mini untuk bawa barang barangnya dari kota menuju ke Litcato, Bason dicegat 5 orang tak dikenal. Barang barangnya dicuri, mobil dipaksa pulang, dan Bason dipaksa jalan kaki setelah baju dan celananya dibuka. Bermodalkan celana dalam Bason sampai ke desa. “Malu,…,malu sekali aku di Litcato, walaupun mereka prihatin dan menaruh simpatik”.
Modalku berdagang habislah sudah, padahal utang sama si Ripok belum dibayar lunas. ”Itulah nasibmu karena sering mengejek aku, kau dikutuk Tuhan” Bruder Simon Guiliano balik mengejek. Aku hanya tersenyum dalam hati kuberkata: “ Itu bukan kutukan”, “Itu nasib buruk yang harus terjadi sama aku yang terlalu menonjol menghancurkan posisi pedagang dan tengkulak”. Jadi bukan persoalan kutuk mengutuk”. Peristiwa seperti itu pernah juga menimpa seorang pedagang 1 tahun yang lalu, padahal pedagang itu tidak mengejek bruder.
Aku tak percaya Tuhan tega menghajar aku sedemikian rupa. Aku sudah bantu umatnya tidak terlalu ditekan pihak luar untuk memperoleh fasilitas keluarga, kemudian aku tak berkesudahan menghibur mereka agar tetap punya semangat kerja. Masya Tuhan tega mengutuk aku yang berbudi luhur.
Bruder ini memang kampungan dan kehilangan pamor karena aku terlalu dominant. Paradigma teologianya cocok untuk masyarakat yang baru mengenal agama Katolik. Harus terus menerus berkata Tuhan itu baik kalau kita taat beragama. .Tuhan ini penuh kasih dan mau mati dikayu salib demi menanggung dosa kita manusia terkutuk. “Kan, umat bosan kalau terus menerus dihujani kata kata seperti itu ?Seolah olah umat dipaksa merasakan kehinaan dirinya sendiri, dihadapan Tuhan maupun (maaf) pastor. Kapan agama bisa menjawab masalah sosial kalau persepsi agama yang dianut selalu diromantisir seperti itu. Kapan kemiskinan struktural bisa dilawan kalau umat sudah terbuai hanya sebatas acara berdoa, ke gereja, sembayang lingkungan, latihan koor, beli baju seragam koor, perayaan natal, paskah dan lain lain. Kapan agama agama kuno ini bangkit ,melawan ketidakadilan ?
Sial !!! keras kepala si Bason muncul lagi. “Dia ini terlalu idealis dan itulah yang membinasakannya” Jengkelku melihat Bason menumpuk hadir di kepala.

Kubalas surat si Bason dengan thema: “Jangan Keraskan Hatimu Kawan”. Tak usah kau heboh mikirkan dunia ini sehingga kau lupa mengurus dirimu sendiri. Carilah pacarmu. Aku sedang dekati anak gadis pejabat di departemen ekonomi. Sebagai calon menteri 10 tahun mendatang semakin tergambar dihadapnku Ha…ha.., apalagi hubungan kami berlanjut sampai ke perkawinan.
Rubahlah cara berpikirmu Bason. Cara berpikir tempramental yang keras kepala dan gampang bosan. Kali ini aku terharu melipat kertas surat untuk Bason.
Tapi, surat itu dibalas Bason secepat kilat. Betapa senangnya Bason mendengar aku sudah berpacaran sebelum dilantik jadi sarjana. Aku sadar bahwa kegembiaraan Bason bukan basa basi, tapi itulah maksud yang sesungguhnya. Soal basa basi bermulut manis dalam komunikasi pergaulan bukanlah milik kami anak Campiano & Coy. Kami sudah terbiasa jujur dalam keterbukaan dan terbuka dalam kejujuran. Kami dibesarkan dengan watak seperti itu di surga tempat tinggal kami di perumhan.
Bason juga cerita bahwa selama ini dia jatuh cinta dengan Inong anak kedua Pak Kumorso yang tak pernah keluar dari rumah. Karena Pak Kumorso adalah bekas perampok yang beberapa kali masuk penjara sebagai akibat membunuh korban rampokannya. Inong nampak tertekan harus mengurus hidup ayahnya,, ibunya sudah meninggal dunia dan abang sudah kawin tinggal di desa yang jauh.

Baru minggu lalu aku deklarasikan percintaan kami dihadapan Pak Kumorso dan para muda Litcato. Inong gembira sekali sedangkan aku pening berat. Kalau Inong dibandingkan dengan Ina gadisku di Halomaon, jelas sekali bertolak belakang. Inong orang miskin tak punya duit beli penghalus kulit, bukan anak pejabat tak punya buku buku untuk tambah ilmu serta kampungan makan tempe ubi setiap hari. Tapi, aku serius mencintainya, bahkan sampai ke jenjang perkawinan.
Bulan depan kami kembali ke biara dengan statusku bukan bruder akan ditempatkan oleh keuskupan di gereja mana saja. Aku tidak boleh tinggal di biara tapi dapat gaji serendah gaji yang diperoleh bruder. Mana mungkin aku bisa hidup dengan anggaran seorang bruder untuk sebuah rumah tangga yang akan kubina ?. Ini yang bikin aku pening berat.

Surat Bason masih berlanjut. Bulan depan tanggal 25 Mei 1988 adik manisku Biuti melangsungkan pernikahan di Halomaon, berarti bisa berangkat dari biara serentak bersama Doar serta Ripok di Goboro. Perkara ongkos akan ditanggung Ripok, Doar masih dapat subsidi dari orang tua. Nah !! mungkin dalam kesempatan inilah aku sampaikan persoalan berat tentang rencana perkawinan yang bikin aku pening selama sebulan. Dan, kiranya keluarga dapat mencapai solusi terbaik untuk rencanaku tersebut.
Aku balas suratnya. Aku sebenarnya ingin juga hadir dalam perkawinan Biuti sekaligus dapat kesempatan cerita panjang dengan Bason. Tapi semuanya itu tak bisa kulakukan. Aku sedang persiapan ikut testing jadi dosen untuk ditempatkan dimana saja. Aku putus cinta dengan anak gadis pejabat departemen ekonomi. Taik kucing !!! mimpi jadi menteri, Moralku tak mau dikotori oleh kecurangan kecurangan kaum pemerintahan. Gadis itu banyak sekali bercerita tentang kejahatan dijajaran pejabat yang membuat dia resah oleh kekayaan orang tuanya. Ibunya terlalu berharap agar anak gadisnya dapat jodoh lelaki kaya raya, bukan lelaki kaleng berkarat macam aku ini. Dan, gawatnya si gadis sama sekali tak berani membantah ibunya. Aku memutuskan hubungan cinta, karena kupikir hubungan kami belum terlalu dalam. Jadi aku tak begitu terbeban oleh kesesakan gadis itu.

Perkawinan adik manisku sukses, 90% undangan hadir dan mertuanya senang berkeluarga dengan kami. Biuti akan pindah ke tempat kerja suaminya di tambang minyak kepulauan sejuta dalam waktu dekat ini.
Tentang rencana perkawinanku akan mulai dibahas tahun depan saja. Aku disarankan berhubungan lebih intens lagi, dari pada nanti sudah direncanakan dengan matang,ternyata panas panas taik ayam. Nanti kau bosan, bikin malu keluarga saja, kata ibuku yang segera mendapat dukungan dari semua pihak. Aku hanya duduk terpuruk mendengar solusi tersebut. Tiga hari lagi aku akan tinggalkan Halomaon menuju desa Litcato bukan kembali ke biara di Sinenuk . Tak ada gunanya aku ke biara karena takut aturan yang diterapkan kepada bruder diterapkan juga untukku yang bukan bruder. Ikut mengurus gereja adalah pantang besar untukku.
Ternyata sisa sisa pikiran pastor Cevara Lubis masih melekat kuat di kepala Bason, padahal aku yang sedang membaca surat Bason menilai bahwa kerja di gereja cukup menyenangkan. Aku masih menilai orang orang gereja selalu berpikir positif demi kemajuan umat beragama. Sangat bertolak belakang dengan sikap Bason yang menilai lembaga gereja adalah sebuah sarang penyamun.

Sampai 30 Agustus 1988 Bason masih berada di Litcato tak bisa datang ke pesta perkawinanku di Halomaon tempat aku jadi dosen. Aku kawin dengan anak dosen yang sekarang jadi dosen juga bersamaku di universitas Liandri tempat Ripok pernah kuliah. Kuterangkan bahwa aku setengah hati saja jadi dosen, tak mau berdedikasi sepenuh hati. Di perguruan tinggi republik ini wataknya setali tiga uang dengan feodalisme. Para dosen muda 80% adalah anak anak dosen senior. Jadi jangan berharap banyak dari perguruan tinggi tempat kaum pragmatis bercokol menancapkan kukunya demi kepentingan dirinya sendiri dan demi perkembangan kelompoknya. Tak ada dosen muda berkwalitas di perguruan tinggi negeri. Tenaga mereka jauh lebih mahal apabila bekerja di perusahaan perusahaan asing jika dibanding jadi dosen perguruan tinggi. Memang benar istilahmu neo imperialisme dan hegemoni kaptalisme sudah merusak dunia alam semesta.
Aku setuju dengan gerakmu di desa Litcato. Di rumah kontrakan, buka warung dengan harga kekeluargaan sambil membina hubungan dengan Inong, kau bebas bergerak ke ibukota kabupaten Persao untuk cari pergaulan, informasi maupun cari kerja yang lebih mantap. Dengan begitu kau terkontrol jaga jarak pergaulan dengan Inong yang masih berstatus pacar bukan istri.

Bason setuju atas pikiranku. Pergaulannya di Persao meluas ke kalangan gereja. Ada majelis gereja yang ngurus organisasi mudika ( muda mudi Katolik) sempat kenal Bason sering ngajak diskusi panjang lebar tentang program Mudika. Bason senang hati saja atas tawaran tersebut, sampai akhirnya ada program seminar sehari : “Peran Teologia Kaum Muda dalam Konteks Perubahan Sosial”, Bason yang diminta mengarahkan panitia pelaksana oleh Pak Pirnangaton (majelis gereja). Dan, anehnya Mudika mendaulatkan Bason menjadi salah satu pembicara. Mudika melihat kapasitas sekaligus kedekatan hubungan emosionil Bason di Mudika tak meragukan.
Aku ingatkan Bason agar jangan lupa ngurus warung serta memberi perhatian kepada Inong. Tapi, Bason merasa kesal karena Inong yang selalu diperkenankan ayah ikut Bason ke Persao tidak pernah mau ikut ke Persoa. “Aku kasihan tinggalkan ayah sendirian dirumah” ini alasan Inong. Sementara warung dijaga Ili kalau Bason bertugas ke Persoa selalu bermalam.
Ripok menyusul melangsungkan pernikahan tanggal 10 November 1988, tapi Bason tak bisa datang ke Halomaon. Walaupun Ripok janji kirim uang transport Bason tak bisa tinggalkan tugas membimbing Mudika penelitian social di beberapa desa.
Kutulis surat bahwa keluarga senang sekali melihat kegiatan Bason yang tetap konsisten bekerja di warung, pacaran dengan Inong dan tekun membina mudika. Ku ceritakan juga kegaluhan hatiku ketika menantikan kelahiran anak pertama. Sarung pestolku terpaksa operasi ceisar selama 1 jam di kamar operasi. Apa ini terjadi karena pestolku terlalu besar Ha..ha… ha.., aku yakin pasti Bason tertawa membacanya.

Ternyata Ili bukanlah anak muda yang baik. Bagaimana mungkin warung satu satunya di Litcato selalu ramai dikunjungi orang bisa defisit ditangan Ili. Waktu Inong mengkritik laporan keuangan warung, Ili marah besar. Tapi, ketika Bason turun tangan Ili tak bisa mengelak. Ili dapat peringatan keras dari Bason, kalau tak bisa mengembalikan uang korupsinya dalam 1 bulan maka Ili akan dipecat digantikan langsung oleh Inong.
Sementara di Persoa Bason semakin luas bergaul dikalangan reporter mass media. Pada kasus penyelewengan anggaran pendidikan, reporter minta tolong Bason untuk ikut terlibat mengungkapkannya. Lewat pesuruh Kakanwil Depdikbud yang berhasil mencuri kwitansi pembayaran fee dari kontraktor pengadaan laboratorium computer SMA V Persoa sebesar Rp. 150 juta, Bason diberi penghargaan dari pemerintah dan mas media bersangkutan. Sedangkan pesuruh yang mencuri kwitansi itu sama sekali tak dicurigai, memperoleh uang jasa dari Bason.
Makin harumlah nama Bason di kabupaten Persoa. Sebagai orang desa pemilik warung kecil kenapa punya wacana berpikir serta ketangkasan yang luar biasa ?, tak ada yang bisa mengerti latar belakangan Bason yang sengaja disembunyikannya.
Keharuman nama Bason berkembang terus, ketika Bason terpilih menjadi pelatih sekaligus sekretaris umum INKAS (Institut Karatedo Sancing) menyelenggarakan pertandingan eksebisi antar perguruan karate se propinsi. Aku terpaksa kontrak rumah di Persao agar lebih efisien bergerak kesana kemari.

Wah !!! kalau sudah begini pastilah warung di Litcato sudah tak diurus lagi dan Inong nganggur tak diperdulikan lagi. Penyakit lama kambuh lagi, lantas kemudian malapetaka akan menimpanya lagi, akan bikin susah kami dan keluarganya. Aku mulai kawatir berjaga jaga menerima kabar buruk dari Bason. Hal ini juga dirasakan oleh orangtuanya. Aku yang selalu berkunjung ke rumah orang tuaku selalu menyempatkan diri ngobrol denga ayah ibu Bason. “Lihatlah si Bason, sudah tak ada lagi pikirannya untuk kawin, padahal waktu itu dia minta kita harus tekun membahas perkawinannya”. Bason orang tuamu sudah susah memikirkan kesibukanmu yang sangat menyita waktu dan pikiran, kutulis surat untuknya.
Dengan isi yang sama dengan Ripok, Doar dan orang tuanya, masing masing kami kirim surat ke Bason. Kau harus hadir pada pernikahan Doar tanggal 6 Febuari 1989. Biar kita bahas rencana hidupmu sampai kelak dikemudian hari kau tidak jadi orang terlantar. Kami bersepakat sengaja pakai kalimat yang keras agar Bason sadar bahwa ini sangat penting.
Bason hanya katakan: Akan kuusahakan sebab aku punya kegiatan penting diwaktu yang sama dengan perkawinan Doar. Aku berharap kiranya kegiatan itu diundurkan sehingga aku bisa hadir pada perkawinan Doar. Tapi, kalau tak bisa, apa mau dikata ?.
Wah !! Ringannya perasaan Bason menanggapi surat kami. Aku mulai jengkel.
Dan, kami semakin jengkel karena sudah bisa diduga Bason hanya hadir melalui telegram mengucapkan selamat menempuh hidup baru.

Minggu depan setelah telegram, surat Bason datang menguraikan alasannya tak bisa datang ke perkawinan Doar. Aku dikontrak lembaga dana untuk mengevaluasi program sebuah LSM . Kau bisa bayangkan tingginya tarif lembaga dana kalau ngontrak tenaga pribumi yang harus dibayar pakai dollar. Masya aku tinggalkan sekarung duit gara - gara pesta kawin serimonial ?. Kau ini semakin tak mampu berpikir logis setelah kerja di kerajaan (Universitas Liandri) yang sangat feodalistis. Salam untuk kawan kawan dan keluarga kita Jabat erat kawan darah dagingmu Bason.
Mampuslah kita ini ringan sekali bahasa surat yang dipakainya. Pasti seringan beban yang dirasakannya, entah kapan Bason sadar dan tergugah memelihara hubungan emosionilnya dengan kami dan keluarga.
Lantas suratnya bertutur tentang kepincangan sosial, kritiknya terhadap gerakan rakyat tanpa ideology, kerakusan gereja, perguruan tinggi, birokrasi pemerintahan dan kasus kasus yang merugikan rakyat. Sebenarnya sudah bosan aku membacanya, tapi tetap saja ada hal baru dari cara Bason menyajikannya, sehingga selalu menarik untuk dibaca.
Aku merasa menyesal kenapa surat surat Bason tidak kusimpan dengan rapi. Mungkin dari surat suratnya aku bisa dapat inspirasi bikin proporsal untuk sekolah lagi ambil master (S2). Sial rasanya karena aku tidak setekun Doar mendokumentasikan segala sesuatu.
Kubalas surat Bason dengan nada keras dan tegas. Harapanku Bason akan merespons bahasaku dengan setumpuk kertas balasan surat

Ternyata tidak. Suratnya singkat saja menceritakan tawaran baru yang datang dari pastor Simon kawannya di Litcato beberapa tahun yang lalu. Pastor yang dulu bruder telah bertugas menjadi pastor paroki di kota Pamostang propinsi Jogai pulau Ajontano mengajak aku pindah kesana. Di Pamostang aku diangkat menjadi konsultan LSM yang bergerak dalam bidang Investigasi Illegal Logging. Di Pamostang sebagai propinsi yang berhubungan langsung dengan negara asing terjadi penyeludupan kayu dalam jumlah besar besaran. Jadi disamping merugikan kelestarian lingkungan hidup kasus tersebut juga memiskinkan jemaat disana. Makanya aku harus kesana. Sambil program berjalan aku bisa study antropologi dan memperdalam kemampuanku bermain gitar atau lebih luas lagi studi etnomusikologi dari masyarakat adat yang relative murni.
Tak kutolak tawaran itu walaupun dengan konswekensi yang sangat berat.
Bulan Febuari 1990 aku harus katakan Selamat tinggal warung Litcato, Selamat tinggal Inong, Selamat tinggal inkas. Selamat tinggal Mudika Persoa dan akan mengucapkan Selamat datang Pamostang Selamat datang illegal logging, Selamat datang studi antropologi dan selamat datang lembaran baru dalam hidupku. Salam untuk kawan kawan dan keluarga kita. Jabat erat kawan darah dagingmu Bason.

Oooaaalaaahhh… macam mananya jalan hidup si Bason ini. Kusadari dia memang punya banyak kemampuan, mental baja, berani, gampang bergaul jadi publik figur, dan panas panas taik ayam. Dari Pamostang kemana lagi mau pindah ? Berapa lama dia di Pamostang? Pacaran sama siapa pula dia nantinya ?. Capek kelelahan aku mengikuti jalan hidup Bason. Dan, hanya orang gila saja yang tidak capek mengikuti jalan hidup Bason, kubilang dalam hati.Tapi, yah,.. diikuti sajalah.
Kalau bisa kau datanglah Natal ke Halomaon tahun 1989, biar kita bisa jumpa dan saling melepas rindu. Perkara ongkos kupikir tak jadi masalah karena pintu duit selalu terbuka oleh Ripok, Biuti, atau Doar. Lagi pula kau kan sudah dapat sekarung duit sebagai upah jasa dari lembaga dana.
Aku kasihan membayangkan hancurnya perasaan Inong kau tinggalkan begitu saja. Apa kau tak kasihan ? Kapan kau serius bekerja dalam tempo lama agar kau bisa lihat hasil buah kerjamu. Terus terang saja sejak SD belajar berenang, karate, gitar dll,dll tak kau tekuni dengan baik. Oleh sebab itu tak pernah membuahkan hasil yang gemilang.
Suratku mungkin lebih panjang dari kotbah Yesus di bukit sebelum disalib dibukit Golgota. Tapi, aku sudah pesimis Bason tersentuh membaca suratku ini. Bason sudah membatu tak bisa dipoles lagi agar lebih halus nuansa civilizise dan nampak dalam eksistensi Bason sehari hari.
Selain memelihara kontak individual yang erat, aku nilai menulis surat ke Bason, dapat juga dipergunakan untuk mengasah watak intelektualku sebagai dosen yang tidak mau tercemar oleh derasnya arus zaman yang pragmatis. Apalagi surat Bason sangat terasa merangsang aku untuk berpikir terstruktur dan konsepsionil. Di hati kecil terpaksa aku akui jasa Bason untuk kemajuan diriku. Sayang Bason belum jumpa dengan istriku. Aku yakin istriku akan tertarik diskusi dengan Bason.

Selamat Natal dan Tahun Baru sebuah kertas kwarto ilustrasi kandang domba Yesus lahir digambar Bason dengan cantiknya. Kertas kwarto itu dilampirkan 10 lembar surat yang ditulis Bason pada minggu pertama berada di Pamostang. Pastor Simon janjikan aku dapat mobil pribadi sehingga aku dapat bebas meninjau langsung proses penyeludupan kayu di desa pedalaman pinggir hutan. Ada 5 orang staf dan 10 orang volunteer di lembaga kami yang siap tempur di lapangan karena sudah memilih karir di illegal loging sebagai profesi seumur hidup. Yah,…mudah mudahan saja realitasnya sesuai dengan apa yang disebut pastor Simon, sebab aku tak yakin sepagi ini Simon sudah berani mengklaim kondisi stafnya.
Semalaman sebelum berangkat aku bersama Inong. Inong memang nangis berderai derai mendengar rencanaku yang mau hijrah, Inong terpaksa melepaskan aku dengan sangat berat hati. Ter…se…rah, bang.. Bason… lah, uh…uh…uh…. Sementara perpisahan dengan warung, mudika, inkas dan kota Persoa tidak begitu berat.
Kantorku dipinggir kota agak jauh dari rumah kontrakan, sudah ada nenek pembantu sekaligus kebutuhan sebuah rumah yang lengkap dari dapur, kamar tidur sampai ke ruang tamu dan gaji jauh lebih besar dari seorang dosen. Salam untuk kawan kawan dan keluarga kita. Jabat erat kawan darah daging mu Bason.

Bulan depannya baru datang surat berikut. Aku baru pulang dari lapagan tempat MNC (Multi Nasional Corporation) beroperasi dengan seenaknya memperbodoh masyarakat desa sambil mengeksploitasi sumber daya alam. Militer di belakang layar konsisten melindungi mereka yang dengan gampang instruksikan camat dan bupati agar mengorganiser masyarakat menebang pohon kayu yang mahal untuk di bawa ke luar negeri lewat batas negara yang tak jauh dari hutan tersebut. Mungkin 6 bulan lagi aku akan mulai penelitian antropologi, outputnya terbit sebuah buku yang laku keras ha…ha…ha….
Kawanku ini sudah berada di habitatnya, ekosistem lingkungan hidupnya membuat dia survival mengembangkan cita rasanya. Kalau di Litcato Bason bisa bertahan lebih dari 3 tahun, kiranya disini bisa tahan sepanjang hidup. Harapan yang sama juga dikatakan Doar waktu datang libur membawa anaknya dari Metrobeta ke perumahan kami. Aku cemburu juga lihat kesejahtraan Doar yang kerja di perusahaan asing karena tidak tergoda oleh indroktinasi Bason. Sebenarnya aku bisa seperti Doar tapi karena terlalu emosionil tak berpikir panjang sehingga sekarang aku banyak pasif hanya menjadi dosen. Sementara ayahku berkoar koar ke segala arah busung dada menginformasikan anaknya adalah sebuah keluarga dosen terhormat. Aku malu melihat ayah yang terlalu bersemangat mempromosikan aku ke delapan penjuru dunia secara kontiniu. Tidak macam ayah Bason yang dingin santai tak berhenti menguyah ilmu pengetahuan lewat buku buku.
Tapi, Ripok kesal melihat sang ayah yang belum juga memulai menulis buku perjalanan hidupnya. Padahal sudah dibeli computer yang sekarang terduduk pasif dikamar kerja ayah. Pada generasiku, ayah tak terpikir membentuk keluarga yang berperadaban tinggi seperti keluarga Bason, tapi, aku akan bangun keluargaku seperti keluarga Bason. Batas etika dipegang teguh tapi anak anak tidak kehilangan hak untuk mengekspresikan diri di dunia anak, remaja, dewasa sehingga mantap berkeluarga. Apa harus menganut westernisasi (ini sebutanku untuk keluarga Bason), apa tidak ada bentuk peradaban keluarga yang berbeda tapi dalam posisi sejajar dengan keluarga Bason ?. Aku memang terlalu fanatik mengagumi keluarga Bason tak ada beda dengan kefanatikan keponakanku Andi kelas 5 SD terhadap Slank (terutama drummernya mantan alkoholik Bimbim). Kamarnya tak pernah sepi dari serakan klipping majalah, koran, poster, CD, dentuman lagu lagu Slank.

Ini yang membuat aku membayangkan Bason kalau sudah punya anak. Mungkin dengan istrinya dia banyak bertengkar soal mendidik anak . Dia mungkin membebaskan anaknya melanggar etika dasar yang pasti tidak disetujui oleh umum (termasuk istrinya.). Tapi, aku yakin bahwa dia sangat menghormati, menyanyangi istrinya dengan baik dan benar.
Diawal November 1991 surat Bason datang dalam warna berita yang lain. Aku jatuh cinta sama Biyok. Rumahnya dituduh sarang penyamun oleh masyarakat, karena dirumahnya berkumpul segala jenis garong dan penjudi yang dapat difungsikan oleh perusahaahn kayu memandulkan gerakan protes rakyat atas penebangan hutan. Sorot mata ayahnya penuh kebencian membuat aku agak keder juga kalau mau bertemu Biyok. Tapi, Biyok kuatkan semangatku agar tak usah memperdulikan sang ayah si keparat busuk. Wah !!! Betapa bencinya ia kepada ayahnya sendiri.

Setahun kemudian, Natal tahun 1992 aku dibolehkan ibunya mengajak Biyok berlibur melihat ibu kota propinsi Pamostang. Sebuah perjalanan pertama dan sangat luar biasa pada diri Biyok yang mengaku tak bisa tidur semalaman membayangkan indahnya pengalaman ke kota Pamostang yang sudah lama sekali diimpikannya.
Aku kenalkan sama pastor Simon, tapi wajah pastor murung merasa keberatan melihat hubungan aku dengan Biyok. Lantas kuantar Biyok bermalam di rumah bibinya yang gembira sekali dapat berkenalan dengan aku. “Masuklah, Pak,…“Kami keluarga miskin tak pernah dikunjungi orang yang pakai mobil” Kata sang Bibi dengan wajah tersenyum puas.
Aku dipanggilnya bapak ?, padahal aku pacar keponakannya. Mungkin karena penampilanku kelas menengah telah berkenalan dengan mereka yang belum begitu sejahtra, maka bibinya senang.
Besoknya sebelum kerumah Biyok aku singgah sebentar di biara pastor Simon. “Kau ke desa pinggir hutan bukan untuk pacaran !!!”. “Tapi, untuk monitoring kerjaan staf di lapangan:, “Jangan sampai rusak program gara - gara kau pacaran” Kata pastor Simon menyerbu aku. “Loh… apa apaan ini !!!, apa pacaran melanggar norma masyarakat?” “Apa program tersendat sendat akibat aku pacaran?”. Pastor terdiam beberapa saat. “Pacarmu itu di sarang penyamun dan beda missi visi dengan lembaga kita”. “Citra lembaga bisa rusak kau bikin”. “Gila !!!, pastor gila” kubilang dalam hati. “Mana mungkin lembaga rusak oleh aku yang pacaran” Kucoba bicara lembut menenangkan diri sendiri sekaligus menenangkan pastor : “Begini ya.., aku sudah terbiasa kerja profesionil” Aku tahu membedakan urusan pribadi dengan urusan kerja “ Jadi tak mungkin lembaga rusak karena aku pacaran”. Pastor Simon acuh tak ucuh menanggapi ucapanku.

Kekesalan Bason jelas kelihatan dari suratnya. Aku yakin Bason cukup bijaksana menenangkan pastor Simon yang temperamental. Dan, kalau Bason dan pastor Simon konflik, aku yakin kesalahan bukan terletak pada diri Bason. Aku jadi teringat peristiwa di Litcato 4 tahun yang lalu. Pastor Simon uring uringan melihat Bason yang mulai mendekati Inong anak gadis mantan perampok itu. Menurut surat Bason, pastor Simon cemburu berat kalau melihat orang sekelilingnya memadu cinta, (mungkin) karena dia tidak boleh melakukannya, begitu Bason menerangkan. Padahal disisi lain Bason gembira melihat perkembangan pastor Simon. Dia makin dewasa mengatasi masalah masalah kehidupan ini. Makin bijaksana menghadapi persoalan lembaga maupun staf yang mengeluh beban kerja yang berat, pasti akan terhibur apabila berdialog dengan pastor Simon. Dan pastor semakin tekun membaca buku menggali ilmu pengetahuan sebagai cara ampuh meningkatkan kapasitas individual. Tapi, persoalan jodoh sikap pastor Simon masih belum berubah. Sampai sekarang tetap keras menanggapi orang yang menjalin percintaan, apalagi perkawinan.

Ternyata hubungan Bason dan Biyok berjalan mulus selama setahun. Sampai awal tahun 1993 surat Bason hanya sibuk menceritakan percintaannya dengan Biyok. Cerita tentang program kerja dan ketidakadilan pemerintah sudah tak ditulisnya lagi, sehingga aku agak keberatan juga. Aku tak menerima sikap/pendapatnya tentang peta perpolitikan Indonesia, tentang strategi para konglomerat memperbodoh masyarakat desa, dll,dll. Aku menilai bahwa membaca surat Bason hampir sama dengan membaca makalah yang disampaikan guru besar. Tapi, sekarang isi kepalaku terasa tumpul, dan makin sadar bahwa aku punya ketergantungan psikologis terhadap Bason dan suratnya.
Pada tengah tahun 2003 surat Bason bercerita tentang sebuah kejadian yang membuat Bason berbalik arah. Siang itu pastor Simon datang ke ruang kerjanya. Sepintas lalu Bason katakan bahwa dia akan melamar Biyok. Acara lamaran mempersunting Biyok bukan dirumah orang tuanya di pinggir hutan, tapi, dirumah bibi di kota ini. Karena Biyok tidak mau lagi tinggal di kampung melihat suasana rumahnya sudah bau busuk kejahatan akibat ulah ayah. Oleh sebab itu aku mohon kawan lamaku Simon yang sudah jadi pastor sebagai perwakilan keluargaku. Eh !!! pastor marah besar tidak setuju atas rencana dan usulku. Kalau aku kawin maka aku harus berhenti kerja dari lembaga ini. Aku ingatkan Simon dengan lembut. Kukatakan bahwa dalam kontrak kerja hal perkawinan tidak disinggung, jadi mem-phk-kan aku (sebenarnya) pastor Simon tidak punya dasar. Lantas pastor Simon
mengoceh macam macam memojokan aku.

Cukup lama dia mengoceh cerewet sehingga suaranya mengganggu para staf diluar kamar kerjaku. Aku malu pertengkaran kami didengar orang lain dan kejengkelanku memuncak melihat kesewenangan pastor Simon memecat aku kalau kawin dengan Biyok. Hampir saja meledak emosiku, mau kulemparkan asbak rokok di meja ke wajah pastor Simon, tapi aku berhasil menenangkan jiwa. Aku diam tunduk beberapa saat kemudian kukatakan : “Saat ini juga aku keluar dari lembaga kita”. Aku masukan kertas kertas ke tas kemudian jalan bergegas meninggalkan kantor. Aku bukan pulang kerumah, tapi menjumpai kawan lamaku yang kontrakan ruko 2 lantai. Aku sewa 1 ruko dan nanti malam akan bawa harta bendaku mulai nginap di ruko.
Mobil dinas kutinggalkan di rumah dinasku membiarkan nenek pembantu kebingungan melihat aku, menyewa oplet tetangga membawa harta benda ke ruko kawan. Rencanaku uang tabungan yang agak besar bisa buka warung dilantai satu, aku dengan Biyok membangun keluarga di lantai dua. Pokoknya targetku tahun 1993 aku harus sudah kawin.
Gundah gulana aku membaca surat. Bason yang terpaksa harus mengambil langkah drastis dalam perjuangan hidupnya. Aku bisa membayangkan gelisahnya Bason, tapi aku yakin dia mampu mengambil langkah terbaik untuk memajuan hidupnya.

Aku nyatakan bahwa aku setuju terhadap langkah yang ditempuh Bason, dan akan patuh atas permintaan Bason yang melarang menceritakan hal ini ke orangtuanya.
Aku pancing Bason agar berkotbah banyak tentang sistem pembangunan yang tidak adil. Kutulis kondisi menuju perumahan kita semakin lebar, warung makanan pinggir jalan digusur habis supaya jalan makin indah dan bersih. Kontraktornya adalah anak gubernur Halomaon, jelas sekali unsur KKN dalam pembangunan jalan tersebut. Bagaimana dengan perusahaan HTI di Pamostang, apakah unsur KKN nya juga menyolok nampak ? Kiranya pancinganku berhasil, aku berharap Bason membalas suratku dengan memaparkan landasan teori teori serta pandangan filsafat yang bikin aku semakin pintar dalam meninjau sebuah kebijakan pembangunan.
Pancinganku gagal karena Bason masih mengoceh panjang tentang hubungannya dengan Biyok. Emzola kawan pemilik ruko yang kukontrak menjadi perwakilan keluargaku melamar Biyok. Status perkawinan masih antar dua keluarga yang diketahui RW setempat, belum diberkati pastor di gereja. Nanti setelah warung kopi Biyok dilantai satu menghasilkan tabungan rupiah kami akan undang orangtua dari Halomaon untuk pesta kawin dan pemberkatan gereja. Tak usah lagi heboh pinjam duit Ripok atau Doar untuk pesta kita, kata Biyok diatas kasur yang baru kami beli. Maka makin cintalah aku sama istriku yang berjiwa mandiri, kusisihkan bantal guling, kupeluk rapat dia sambil berselimut. Dibawah selimut aku hanya tinggal pakai kolor saja. Nah !!! cerita selanjutnya tak usah kutulis disini, kau pasti tahu apa kegiatan kami malam itu Ha…ha…jabat erat kawan darah dagingmu Bason.

Sial !!! pancinganku tak berhasil, kubaca surat Bason sambil senyum. Bason belum juga mau menulis hasil analisanya tentang peta perpolitikan negara yang sedang terjadi.
Rupanya hubungannya dengan pastor Simon sudah patah arang tidak mungkin dibina lagi. Karena beberapa kali pastor datang ingin menjumpai, Bason sengaja menolak seolah ada kerjaan lain yang tak bisa ditinggalkan. Aku yakin pastor bermaksud minta maaf sama Bason sekaligus (mungkin) minta Bason kembali bekerja di lembaga mereka.
Aku heran kenapa Bason tak mau menerima pastor Simon yang lebih menjamin kehidupan nyaman dan sesuai dengan cita rasa dirinya, masyaa… tiada maaf pada diri Bason. Heran aku tengok kau, begitu kutulis surat untuk Bason.
Walaupun jaringan telepon interlokal bersama handphone semakin tersosialisasi, kami masih menjalin komunikasi lewat korespondensi surat menyurat. Kami melihat tulisan tangan dalam korespondensi adalah alat komunikasi yang mujarab menghapus rindu berkawan. Oleh sebab itu kami sepakat untuk selalu mempergunakan surat dalam komunikasi.

Padahal dari informasi yang diperoleh, kantor pos defisit dari ke hari. Kantor pos sudah tidak diminati masyarakat akibat dari hadirnya HP yang sangat mengejutkan masyarakat.
Tapi, itu tidak mempengaruhi pola komonikasi kami.
Syukur,… warung Biyok menyediakan 2 koran mampu menarik banyak pelanggan. Mulai dari para calo tanah, ngurus STNK motor/mobil, jual beli motor, mobil, ac,hp, tv dan segala jenis barang dagangan selalu parkir di warung kami memesan rokok, kopi, supermie telor, kue kue . Aku kadang muncul mengikuti perkembangan informasi. Ada beberapa orang yang sudah kenal terheran kenapa aku bisa ada di warung ini?. Terpaksa aku terangkan dengan tenang bahwa aku sakit dan tak bisa kerja lagi di lembaga yang banyak menyita tenaga ke desa desa pinggir hutan. Mereka percaya saja dan menunjukan rasa simpatik. Bahkan, aku sering diminta ikut bantu mereka reportase berita atau memberi komentar politik atau panduan investigasi kasus. Asyik juga rasanya, walaupun tak ada duitnya.

Suatu hari pastor Simon datang mendadak ke warung, aku tak bisa mengelak terpaksa mengajak dia ngobrol diruang tamu kami lantai 2. Memang benar pastor minta maaf sekaligus mengharapkan aku kembali kerja di lembaganya. Maaf, aku tolak kembali kerja di lembaga tersebut, aku sudah jatuh cinta kerja bebas menolong istriku di warung. Pastor kecewa tapi aku sudah tak perduli lagi. Aku teringat pastor Cevara Lubis yang bilang lembaga besar adalah alat orang kaya merampas uang rakyat demi memperkaya diri sendiri.
Tahun 1994 kami sudah mulai cicil rumah tipe 36 di perumahan Mimbar Permai. Aku juga dikontrak pimpinan redaksi Koran Turiunas untuk monitoring dan evaluasi para reporter yang magang. Kalau ada waktu aku juga ikut melacak tanah atau rumah yang mau dijual. Yah,… sekedar tambah uang masuk mendukung keuntungan warung, begitu Bason memberi alasan. Dia juga tuliskan mohon maafnya tidak bisa bantu keuangan untuk ibunya operasi. Ripok, Doar, Biuti serta orangtua juga sudah diberitahukannya. Aku harus tabung duit menanti kelahiran anak kami 7 bulan lagi. Bulan depan istriku tidak kerja lagi, warung dilayani oleh Itit dan Ega asisten Biyok istriku. Uang tabungan kami juga dipakai membantu bibi merehab rumah mereka yang mau ambruk. Paman sudah tua masih kerja satpam tak punya tabungan cukup untuk rehab rumah, itu makanya kami merasa ikut bertanggung jawab atas jasa mereka kepada kami.

Bason minta masukan dari aku. Apakah sudah patut diberitahu statusnya yang sudah kawin atau tunggu dulu setelah ibu sembuh dari operasi kelenjar air di kepala.
Aku usulkan sebaiknya nanti saja setelah ibu benar benar pulih. Rupanya perasaannya terganggu karena belum memberitahukan perkawinannya. Kasihan juga aku melihat Bason.
Sebenarnya dia tidak layak berada dalam posisi sosial seperti ini. Posisi yang layak untuk dia paling sedikit staf menteri atau pimpinan gereja ditingkat nasional. Kerja mengkonsep program kerja, merekrut staf dengan aturan kerja yang ketat profesionil atau di perusahaan besar sambil menjadi tokoh politik yang bersih tidak busuk.
Tapi semua itu jauh dari status sosial ekonomi Bason saat sekarang.

Setelah enam bulan, aku beritahu bahwa ibunya sudah sembuh total, segera Bason telepon orangtuanya. Diberitahukannya bahwa dia sudah kawin sedang menanti anak pertama 2 bulan lagi. Orangtua, Ripok dan Doar tidak terkejut mendengar berita tersebut. Kami sudah terbiasa dengan berita mendebarkan dari Bason, kami sudah kebal tak ambil pusing lagi kalau mendengar berita Bason. Justru Biuti yang kawatir kalau saja bang Bason salah memilih jodoh. Takut watak kakak iparnya tidak baik dan tak mampu memelihara suasana keharmonisan keluarga. Biuti takut abangnya hidup menderita akibat watak jahat kakak iparnya .

Aku yang sudah dikenal kontak dekat dengan Bason ditelepon ibu beberapa kali. Walaupun aku belum melihat Bason secara langsung, tapi aku nyatakan saja bahwa Bason cukup cerdas menentukan istri. Jangan kawatir tentang konsidi Bason.
Untuk tahu realitas sesungguhnya ibu dan Biuti akan ke Pamostang berkenalan dengan keluarga bang Bason sambil melihat anak bayinya. Aku ceritakan semua rencana itu karena ibunya janji tidak akan memberitahukan maksud tersebut dalam waktu dekat ini .
Bason gembira atas rencana Biuti dan ibu, kegembiraan itu sama dengan apa yang dirasakan Biyok istrinya. Biyok katakan dia bangga punya keluarga baru yang tidak miskin, tapi, apakah aku bisa diterima oleh keluarga Bason ?.Ada juga kesangsian Biyok, tapi, Bason cukup cerdas menguatkan jiwa sang istri.
Tak ada peristiwa menarik pada warung dan keluarga Bason dalam menanti kelahiran anak pertama.

Anak pertama Bason lahir 3 hari setelah Ibu dan Biuti sudah hadir di Pamostang tanggal 12 Desember 1994. Persaudaran Biyok dan Biuti yang sebaya sangatlah hangat romantis tidak ada kepalsuan. Ibu juga sangat sayang kepada Biyok yang masih kampungan agak buta soal modernisasi. Diterangkan ibu agar Biyok mengerti kondisi kota besar Halomaon yang sangat berbeda dengan kota kecil Pamostang atau tentang fasilitas fasilitas modern dalam dunia pendidikan, kebudyaan adat istiadat dan tentang apa saja. Diperagakan sambil dituturkan ibu cara dan teori memandikan bayi atau di pijat Biuti tubuh Biyok yang masih pegal pegal.

Untuk jalan keliling kota ibu dan Biuti naik oplet, tak mau kukawani. Tidak bebas kalau Bason ikut, dia tak sabar menunggu kami menawar barang barang dari toko ke toko. Oleh sebab itu, kalau Biuti keliling kota Bason ngobrol dengan Biyok. Beberapa kali Biyok nangis menerima perhatian sungguh dari ibu dan Biuti. Suasana ini indah sekali aku terharu menatap kehidupanku yang aneh ini. Aku tak mau kasih tahu nama anakku, nanti saja aku sebutkan kalau kita jumpa.
Aku terpaksa membiarkan alat kencingku nganggur 2 bulan ini. Aku terpaksa puasa. Salam ke kawan kawan dan keluarga kita, jabat erat kawan darah dagingmu Bason.

Aku juga merasa gembira membaca kabar Bason yang tak menyangka begitu dekat hubungan istrinya dengan ibu dan Biuti.
Tanggal 15 Januari ibu dan Biuti tinggalkan Pamostang. Agak terlambat dari rencana mereka karena pesawat penuh mengangkut para pemudik pulang bernatal ke Pamostang.
Di Halomaon tanggal 15 Januari 1995 sehabis magrib aku sudah parkir dirumah Bason menungu cerita panjang dari Biuti dan ibu. Dipeluk cium Ibu dan Biuti aku yang sedang ngobrol dengan ayah. “Sudah habis hutangku di hadapan Tuhan”. “Aku mampu mempertanggungjawabkan anak anak yang dititipkan Tuhan untukku” Mereka sudah kawin dan hidup damai sejahtra, walaupun Bason masih tertatih tatih” Ibu hampir menangis. Kami gembira terharu malam itu. Tapi, suasana berubah ketika ibu bangkit dari tempat duduk ke ruang tamu. Ibu terjatuh kelelahan. Kepalanya terbentur ke lantai, mulutnya muntah darah dan pingsan tak sadarkan diri. Malam itu naik mobilku langsung membawa ibu ke rumah sakit Santa Theresia. Jam 02.15 ibu menginggal dunia. Biuti meraung raung, ayah pingsang diurus suster rumah sakit. Aku sibuk menelpon Ripok, Doar dan Bason. Bason teriak histeris di ujung telepon sana. Besok sore sudah hadir di depan jenazah ibu meninggalkan istri dengan anak yang baru 1 bulan.

Sampai tahun 2002, delapan tahun kemudian tanpa handphone tanpa telepon kami tetap berkomunikasi. Tetap dengan korespondensi surat menyurat yang tetap memperdulikan hati nurani demi memelihara hubungan personal yang sudah terjalin berpuluh tahun. Bersama kawan darah dagingku si – Bason.