Tok …tok..tok… pintu utama sekretariat HRM (Himpunan Rakyat Merdeka) diketuk 2 orang anak muda yang datang naik motor bergaya mahasiswa dengan tas gantung berisi buku buku. “Bu, bang Indra ada Bu… kata mereka. “Oh…tak ada. Baru 4 menit yang lalu pergi” kata ibu berkerudung menyambut tamu. Setelah beberapa saat membisu ibu berkerudung lanjut bicara “Ada pesan ?”. Belum sempat dijawab kedua tamu, Ari yang dari tadi mengetik ikut bergabung: ” Lebih baik ditunggu saja, karena bang Indra janji hanya keluar sebentar ambil data dari Biro Pusat Statistik”. Tunggu sajalah, dari pada bolak balik datang kesini”. Kedua tamu saling berpandangan, lantas membuka sepatu masuk kedalam seketariat HRM ; “Baiklah, lebih baik kami tunggu disini saja” .
Sementara Pak Sintong masih terus sibuk di ruangan melanjutkan ketikannya tak memperdulikan tamu yang sudah duduk di ruang tamu.
“Saya Amsal, ini kawan saya Ferri ” kata Amsal memulai pembicaraan. “ Oh,…begitu Lantas urusan apa sama bang Indra?” kata Sisilia ibu berkerudung bendahara HRM yang menyambut tamu. Ari ikut duduk bersila menyambut kedua tamu tersebut. “Kami ini mahasiswa Institut Muslim Seantero “. “Tadi kami dari LSK (Lembaga Simbas Keadilan) menyerahkan undangan pementasan kami sabtu mendatang”. “Dari LSK kami tahu bahwa di HRM ini ada poster dengan thema : Penindasan Perempuan”. Itu makanya kami datang kesini”. “Wah !! kalau poster itu memang banyak disini”. Kami cetak waktu kerja sama dengan PT Kijang Indonesia”. “Kalian boleh ambil semuanya, karena ini sisa seteleh kami sebarkan ke seluruh kabupaten” Ari ikut nimbrung pembicaraan. “Kalau boleh tahu pementasan apa, yaaa..” Sisilia lembut buka bicara. “Pementasan drama, Bu” “Di Institut Muslim Seantero kami punya sebuah lembaga independent namanya Comunitas Kerja”. Kadang kami jadi relawan pengungsi kerusuhan, bikin seminar, penelitian dan lain lain”. Nah ! rencana kami malam sabtu ini pementasan teater di taman budaya”. Amsal beri keterangan tentang rencana lembaga Comunitas Kerja. Nampak ada keinginan dari kedua belah pihak untuk berkenalan lebih jauh lagi. Hal ini jelas kelihatan dari wajah berseri dan kalimat kalimat yang diungkapkan. Penuh semangat perkawanan.
Sedangkan Pak Sintong masih serius tetap mengetik didampingi beberapa buku yang bertebaran dekat komputer. Hal ini sudah berlangsung selama 2 minggu di komputer yang sama dan di waktu yang sama pula. Pak Sintong tidak pernah memberitahukan apa isi ketikannya. Sehingga orang lain hanya bisa menebak bahwa Pak Sintong mengetik tulisan ilmiah sesuai dengan obsesinya beberapa tahun belakangan ini. Biasanya memang dia tak pernah perduli dengan tamu tamu yang berkunjung ke HRM.
Pak Sintong adalah seorang tua yang berkenalan dengan Indra 8 tahun yang lalu. Waktu itu mereka berniat mendirikan lembaga pengkajian media massa yang dinilai tidak punya misi dan visi untuk pengembangan masyarakat. Media massa yang terbit beredar di masyarakat hanya memikirkan keuntungan maximal tanpa memperdulikan unsur pendidikan masyarkat . Oleh sebab itu berita berita yang kaya raya dengan darah segar kriminal, kasus sexual, kesadisan kasus keluarga adalah berita yang paling laku untuk dijual. Sangat merusak watak pembaca. Atas dasar pemikiran inilah Pak Sintong dan Indra mendirikan lembaga kajian eksistensi media massa.
Tapi, rencana mereka gagal total. Dukungan dari lembaga dana tidak diperoleh, karena dalam momentum yang sama konsentrasi dana terpaksa disalurkan kepada penduduk yang menjadi korban konflik sara di beberapa wilayah. Sementara semangat dan kapasitas mereka untuk menjalankan program sudah tak diragukan lagi. Beberapa usaha mempromosikan lembaga serta visi misinya ke perguruan tinggi dan lembaga keagamaan tak mendapat sambutan yang baik. Umumnya jawaban klise menjemukan yang mereka terima. Padahal sebenarnya lembaga lembaga tersebut harus melihat bahwa jaringan kerja dengan lembaga yang akan didirikan Indra adalah sebuah langkah yang efektif dalam pengembangan kwalitas media massa. Tapi, karena tak mau repot berhadapan dengan pemilik media massa yang mendapat perlindungan militer dan status quo, maksud luhur Indra dan Pak Sintong terpaksa ditolak.
Sejak itulah Pak Sintong berumur 58 tahun dengan cambang brewok lebat berkawan dekat dengan Indra hingga sekarang. Indra anak muda potensial pemerhati realitas sosial telah menyerahkan hidupnya untuk berjuang bersama masyarakat tertindas
Tidak mau kerja formal permanent sebagai staf di kantor pemerintahaan maupun perusahaan swasta. Hal ini sangat bertentangan dengan niat ibunya yang mengharapkan Indra setelah menyelesaikan perkuliahan dari fakultas ilmu pendidikan. Ibunya sangat mengharapkan Indra dapat meningkatkan status sosial keluarga mereka yang sudah lama kehilangan ayah. Kedua adik perempuannya kurang berhasil dalam keluarga. Adik perempuannya kawin dengan pegawai kantor pos yang sebentar lagi di PHK karena kegiatan kantor pos jauh merosot setelah kehadiran email, internet dan handphone. Adiknya yang laki laki hanya bekerja sebagai buruh perkebunan. Hanya Indra yang disekolahkan sampai meraih gelar sarjana. Dan sejak jauh hari Indra diharapkan mampu menopang keuangan keluarga. Tapi harapan ibu hanya tinggal isapan jempol. Indra sangat alergi kerja formal.
Tahun lalu Indra dipercaya oleh HRM pusat mendirikan cabang di Pontinano. Indra menjadi pimpinan utama HRM. Penyadaran masyarakat tentang pentingnya mengatur alokasi dana pemerintah di wilayahnya masing masing adalah konsentrasi program HRM. Sampai sekarang progam baru berjalan di 4 wilayah. Sedangkan Pak Sintong tak duduk dalam struktur organisasi HRM. Tapi, mendapat kesempatan mempergunakan segala fasilitas seketariat HRM walaupun untuk kepentingan pribadinya. Disamping sudah berkawan lama dengan Indra, HRM menilai bahwa banyak gagasan Pak Sintong demi untuk kelancaran program. Itu makanya kehadiran Pak Sintong dinilai menguntungkan wacana HRM.
Sebelumnya Pak Sintong adalah penjahat besar yang melarikan diri dari Putausibu. Sempat menjadi kaya raya dari hasil penjualan sarang burung walet di gua milik keluarga. Tapi, karena berbuat curang melarikan uang pembayaran burung walet tetangga Pak Sintong menjadi buron polisi selama 2 tahun. Tak ada yang paham dimana Pak Sintong berada selama masa buron. Mendadak saja hadir di Pontinano seorang diri karena beliau belum jua berumah tangga. Pak Sintong membiayai hidupnya atas bunga uang deposito yang tempo hari digelapkanya dari hasil penjualan sarang burung walet tetangga
Walaupun kasus itu sudah di peti-es kan tapi sampai sekarang beliau tak berani kembali pulang ke Putausibu. Justru, profesi baru sebagai kritikus sastra yang masih amtiran telah menyita seluruh perhatiannya. Akibat perjumpaan dengan Indra, watak serta perhatian Pak Sintong berubah total. Indra dengan penuh sabar membimbing dan mengasah pikiran kritis Pak Sintong hingga mampu memberi kritik/saran terhadap berbagai karya sastra yang beredar di masyarakat.
“Wah !!! berarti dua hari lagi kami akan melihat kalian tampil di Taman udaya”? kata Ari dengan antusias. “Iya,..Bang, saya dan Ferri saja yang terus menerus hilir mudik kesana kemari” . ”Mulai dari persiapan latihan, lobby dana, dan lain lain kami kerjakan berdua saja” Amsal nampak letih. “Berapa orang pemain yang terlibat dalam pementasan ?”.” Kenapa mereka tak ikut berpartisipasi mempersiapkan pementasan?” Sisilia menunjukan perhatiannya terhadap keletihan Amsal.” Ada 17 orang dan mereka hanya heboh berlatih tak mau perduli persiapan lainnya” Ferri menjelaskan. “Berapa lama persiapannya”? Ari juga tertarik nampaknya. “Lama bang, …kami sudah bekerja sejak 4 bulan yang lalu” Serius dan letih sekali nada suara Amsal menjawab Ari. “Berarti uangnya banyaklah” sambut Sisilia. “Banyak uang ?,… Bagaimana !! ???” Uang yang ada hanya 90 ribu saja”. Amsal jengkel. “SEMBILAN PULUH RIBU …?” dengan suara berat agak terkejut Pak Sintong keluar dari ruangan komputer ikut bergabung berdiskusi. “Dari tadi saya ikuti pembicaraan kalian”. Walaupun saya menekuni seni tulis, tapi saya juga memberi perhatian terhadap seni gerak”. “Itu makanya kedatangan kalian sebenarnya mengundang perhatian saya”. “Tapi, karena kalian nampaknya masih pemula, maka saya tahan diri untuk tidak tanya tanya kalian”.
Dengan suara berwibawa dan bergema Pak Sintong mengambil tempat duduk bersila ikut dalam pembicaraan. Ferri, Amsal, Sisilia dan Ari duduk menunggu Pak Sintong melanjutkan bicaranya: “Iya,… saya prihatin mendengar kerja kalian”. “tapi, siapa diantara kalian yang serius ingin hidup di dunia teater”? penuh semangat Pak Sintong bertanya. Dengan sigap Ferri langsung merespons: “Ini pertanyaan yang berat Pak” Kami belum berpikir sampai kesana”. “Wah, sudah hampir terlambat”. “Setidaknya ada 2 atau 3 orang sudah punya komitmen untuk hidup dari teater dan hidup untuk dunia teater”. “Tak perlu kalian takut dituduh mata duitan” Yang jelas tarif untuk orang yang mau bekerja profesionil selama 4 bulan pasti mahal”. Seharusnya kalian sebagai panitia maupun pemain sudah dapat gaji satu juta sebulan”. “Itu tarif yang paling kecil”. Kalian justru keluar duit untuk pementasan”. “Ini tandanya cara kerja kalian macam seniman tahun 60 an” “Kampungan !!!“. “Masih amatiran” pak Sintong nampak keberatan atas kerja kaum muda yang belum melirik bahwa kerja profesionil dalam teater bisa menjadi pijakan menata karir.
“Sudah kemana saja kalian”? tanya Pak Sintong dengan rasa ingin taunya. Maklum bapak yang satu ini perhatian sekali dengan anak-anak muda yang serius menggeluti bidangnya. “Kami sudah jual tiket pementasan ke LSK, beberapa salon kecantikan dan perusahaan kayu”. “Kami tak tahu entah menjual kemana lagi?” mata Ferri dengan pandangan kosong menatap Pak Sintong. “Oke,… begini saja saya telepon beberapa kawan, nanti kalian ambil duit dari mereka” . Oke…” Pak Sintong berikan usul, “Dan, tiket yang gratis untuk HRM sebaiknya dibayar saja”. Lantas Pak Sintong mohon Sisilia serahkan duit membeli 5 lembar tiket. “Ma kasih Pak” Ferri malu malu kucing menerima uang dari Sisilia. “Nah !!!, untuk meniti karir profesionalisme di dunia teater, sebaiknya dalam evaluasi nantinya undang beberapa personil yang dinilai potensial”. “Kita minta mereka untuk mempromosikan kemampuan kita beracting” “Bukan mempromosikan agar mendapat dukungan dana saja”. “Tapi kita dipromosikan juga agar paham nilai filosofi teater maupun melatih kemampuan acting”. Pak Sintong membakar kematangan Ferri dan Amsal dalam menggeluti profesi yang sedang mereka tekuni. “ Cocok sekali Pak”. Berarti bapak nanti harus hadir pada acara evaluasinya” mata Amsal berseri mendengar dunia baru yang lebih baik. “Yah,…saya usahakan” Pak Sintong bangkit berdiri serentak bersama Amsal, Ferri, Sisilia dan Ari. Bersalam salaman penuh rasa kekeluargaan. Amsal dan Ferri meninggalkan sekretariat HRM menuju alamat kawan Pak Sintong yang akan memberi sedikit sumbangan dana setelah tadi dikontak telepon.
“Lugu sekali pandangan mereka tentang dunia teater ya… Pak Sintong” Ari langsung memberi komentar. “Iya,… mereka masih terlalu idealis melihat dunia ini” Sisilia juga sudah memendam komentarnya, sehingga dia mendahului Pak Sintong untuk memberi opini. “Inikan dunia entertaiment”. “Dunia pertunjukan yang jauh lebih orisinil jika dibanding pentas musik”. “Dalam teater ada titik tekan yang kuat untuk menyampaikan missi ke masyarakat. “Jadi bukan kerja yang main main. “ Perlu latihan yang lama dan konsepsi serius untuk penampilan sebuah karya seni teater” Sisilia yang belakangan ini banyak menyita waktu untuk memahami filosofi seni di tengah tengah masyarkat langsung tergerak mengutarakan pendapatnya. “Benar yang dikatakan Sisilia. “ Belakangan ini konsep seni untuk rakyat semakin populer”. “Dunia teater dipakai sebagai sarana penyadaran masyarakat agar lebih tajam melihat kemiskinan struktural yang sedang terjadi disekitarnya”. Ada jaringan kerja yang sudah mendunia untuk menyebarkan konsep ini. Dan, dukungan apa saja tersedia untuk orang atau lembaga yang ingin menekuninya. Amsal dan Ferri cukup potensial apabila dipromosikan ke jaringan tersebut --- tak perlu susah susah mencari dana ---Bahkan kalau mereka berkomitmen agar seluruh hidupnya diabdikan untuk dunia teater pasti tidak jadi orang melarat. Mereka harus berpikir bahwa untuk membeli sepeda anaknya, rumahnya dan mobilnya, dapat diperoleh dari pengelolaan dunia pertunjukan teater. Bukan berarti mereka harus membuang idealismenya Bukan mereka ditempah jadi manusia yang mata duitan alias materialistis. Mereka tetap memperjuangkan idealismenya, tapi bukan dalam kondisi yang melarat. Jaminan tidak melarat dapat diberikan oleh jaringan teater rakyat yang sudah mendunia. Asalkan mereka terus berkarya meningkatkan kapasitasnya, berjaringan dan terus menerus mempromosikan idealismenya.
“Saya setuju dengan apa yang diuraikan Pak Sintong “ Ari memecahkan suasana yang sempat hening. “ Saya lihat ini adalah kesalahan gerakan pro demokrasi mahasiswa”. Mereka menuduh semua pihak adalah agen neo-liberalisme. Terutama pemerintah dan LSM dituduh menjual kemiskinan Indonesia demi untuk kemakmuran hidup LSMnya ”.
Mereka menganggap seluruh LSM adalah kotor dan rakus duit. Sudah tak mau membedakan bahwa masih banyak juga LSM yang bekerja tekun dan sungguh sungguh ditengah tengah rakyat. Gerakan mahasiswa sama sekali tak perduli terhadap keanekaragaman watak perLSMan.
Padahal, setiap gerakan mahasiswa pasti dibiayai oleh elite politik demi untuk kepentingan politik elite tersebut. Jadi sebenarnya aksi mahasiswa sama sekali tidak pernah independent. Bahkan beberapa elite politik menjual agama demi untuk kemenangan politik. Bayangkan saja, ada slogan yang mengatakan bahwa meminum darah orang kafir adalah halal di hadapan Allah. Inikan slogan yang “GILA”. Membius masyarkat miskin melarat agar berani mengorbankan nyawanya demi untuk membela agamanya. Agama apa yang menganjurkan hal seperti itu ??. Seluruh agama berniat baik untuk memelihara dunia tetap harmonis tak ada permusuhan. Slogan itu sebenarnya musuh mahasiswa yang diharapkan memberi kontribusi terhadap dunia yang damai sejahtra.
Tapi, mahasiswa seenaknya saja menuduh orang lain menjual kemiskinan. Mahasiswa itu hanya sebuah fase dalam kehidupan anak muda yang di subsidi negara dan orang tuanya masing masing. Hanya pintar menghabiskan duit yang katanya demi untuk menimba ilmu. “Taik Kucing untuk mahasiswa yang mengaku pejuang moral” Taik kucing !! wajah Ari merah bringas hampir tak mampu menahan kejengkelannya. Mahasiswa tetap dalam keterbatasan waktu, keterbatasan biaya dan keterbatasan kapasistas. Bagaimana mungkin perubahan sosial di Indonesia dapat terjadi atas perjuangan mahasiswa yang penuh keterbatasan ? Bagaimana mungkin pelaku demokrasi adalah golongan masyarakat muda yang onani sosial ? HUA…HA.,.HA…HA.." Ari ketawa lepas dan puas terbahak bahak. Sementara Sisilia yang gampang sedih menundukan kepala nampak bingung terharu. “ Iya… sampai sekarang masyarakat sulit percaya bahwa mahasiswa yang menduduki gedung DPR MPR tahun 1998 yang lalu adalah mahasiswa yang independent”. “ Akibat reformasi Indonesia, justru kehidupan sosial politik ekonomi masyarakat Indonesi semakin anjlok. “Semakin sengsara”. Akibat ulah mahasiswa yang katanya pejuang moral menduduki gedung DPR MPR Pusat tahun 1998” Pak Sintong menggeleng gelengkan kepala. “Tapi, terlepaslah dari persoalan politik yang telah dan sedang terjadi”. “Apakah Sisilia dan Ary akan nonton teater Amsal” ?. Pak Sintong mencoba merubah suasana diskusi yang jadi serius menegangkan. “Saya usahakan,.. Pak” Ari masih lesu menjawab.” Saya memang tak berniat bercerita tentang gerakan demokrasi”. Hanya saja karena begitu derasnya keangkuhan slogan perjuangkan moral para mahasiswa, sehingga (mungkin) saja berhasil menutup mata Amsal dan Ferri melihat dunia teater yang lebih baik” Ari menguraikan alasannya yang gampang terbawa arus emosi. “Saya juga kepingin nonton mereka” Sisilia buka bicara. “Tapi, terpaksa tidak nonton dengan suami. Karena suami saya masih tugas di Menado”. Mungkin kalau sehat dan segar akan saya ajak adik ipar saya” Sisislia memang mengaku sering merasa lemas dan ngantuk kalau pulang dari sekretariat HRM dan tidak ada gairah melakukan kerja. “Tak usah dipaksakan Sisilia, mungkin keletihanmu pertanda hamil anak pertama”. Menjaga kesehatan tubuh jauh lebih penting” sosok pak Sintong sebagai orang tua yang baik budi jelas nampak dari ucapannya. Ucapan seperti ini sesekali saja diutarakan Pak Sintong, karena dalam kehidupan di sekretariat HRM Pak Sintong tetap menyesuaikan dirinya dengan pola tingkah laku para staf HRM yang jauh lebih muda. “Terima kasih pak Sintong ” Sisilia cukup mengerti perhatian Pak Sintong kepadanya yang baru menikah. “Ary, kita nonton ya…. Saya jemput kau malam sabtu ini” Pak Sintong menawarkan diri. “Iya pak, saya tunggu bapak dirumah”.
Ternyata Sisilia terlalu lemas sore itu pulang dari HRM sehingga tak bisa nonton teater. Ary sengaja membatalkan janji bertamu ke rumah keluarga calon istrinya. Pak Sintong juga terpaksa membatalkan niatnya melanjutkan penulisan buku demi untuk menonton teater. Otomatis hanya 2 tiket yang dipergunakan.
Di Taman Budaya para pengunjung tidak terlalu ramai. Sedikit saja perhatian masyarakat Pontinano terhadap dunia teater. Mungkin perhatian masyarakat masih tersita oleh biaya hidup keluarga dan menumpuknya pekerjaan kantor sehingga dunia teater belum mendapat tempat di hati masyarakat. Sehingga Amsal dan Ferri merasa kecewa dan lesu ketika dijumpai Pak Sintong. “Inilah kenyataan yang tak bisa kita pungkiri”. “Kalian tak perlu kecewa karena kita masih langkah awal menatap masa depan yang cerah” Pak Sintong senyum dikulum. “Terima kasih Pak Sintong” Ferri rangkul pinggang gendut Pak Sintong sambil masuk ke panggung pertunjukan. Ferri dan Amsal merasa senang bergaul dengan bapak tua yang nampaknya bersedia ringan tangan senang hati membimbing mereka.
Sound sistem panggung sangat minim sehingga para pemain harus berteriak teriak dalam dialog agar dapat didengar penonton. Drama dikutip langsung dari karya WS Rendra awal tahun 80 an berjudul “Orang Orang di Tikungan Jalan”. Bercerita tentang berbagai latar belakang orang orang yang selalu berkumpul menjadi sebuah komunitas baru yang teralineasasi dari masyarkat umum disebuah tikungan jalan umum. Ada friksi friksi antar mereka, kemudian ada tindakan amoral sexual dan beberapa perbedaan paradigma tentang hidup dan perkawinan. Alur cerita mengalir dengan baik karena kemampuan pemain menghayati acting cukup memukau penonton. Latar belakang panggung yang gelap sendu memberi kesan menyeramkan membuat penonton semakin menyatu dengan jalan cerita yang dipaparkan oleh pemain. “Cukup berhasil pertunjukan mereka ya Pak Sintong ” Ary beri komentar ketika Pak Sintong tekun melotot menonton pertunjukan. “Iya,…inilah yang membuat saya terharu”. Kemampuan teater mereka tak jauh beda dengan aktor aktor tingkat nasional yang sudah berpengalaman. Sedangkan mereka masih muda cukup potensial, oleh sebab itu sangat layak berkembang melalui dukungan berbagai pihak.” Pak Sintong kelihatan serius sekali sampai akhir pertunjukan. Teater ditutup dengan hadirnya seluruh pemain berbaris di depan panggung disalami para penonton secara bergiliran.
Ferri yang melihat pak Sintong menuju tempat parkir langsung berteriak: Pak,…pak Sintong” sambil berlari mendekati. “Besok malam selesai pertunjukan kedua, kita segera evaluasi”. Kalau bisa Pak Sintong datang dan membawa kawan kawan yang Pak Sintong nilai potensial mengembangkan teater”. Pak Sintong terkejut mendengar tawaran itu:Yah,… kenapa mendadak begini”. “Dan kalau sehabis pertunjukan ke dua berarti evaluasi dimulai paling cepat jam 8.30 malam”. Apa tidak terlalu malam ?. Rumah saya jauh, tapi saya usahakan datang”. Kemudian Pak Sintong gonceng Ary tinggalkan halaman parkir memutar motor tuanya.
Besok malam hujan deras Pak Sintong tak bisa keluar rumah. Otomatis tak bisa hadir pada evaluasi yang diselenggarakan Ferri sang ketua panitia. Selama seminggu komunikasi terputus karena Ferri dan Amsal heboh dengan urusan perkuliahan, daftar ulang semester genap. Sementara proyeksi sanggar teater komunitas kerja Institut Muslim Indonesia belum menunjukan titik cerah seperti yang digambarkan Pak Sintong. Ferri dan Amsal sangat menyesal kenapa mereka yang merindukan rencana kerja progresif belum juga mampu menyusun program secara profesionil.
Sedangkan Pak Sintong tak muncul di sekretariat HRM. Lima hari yang lalu dia dijemput mobil mewah BMW oleh dua orang perempuan bercadar sampai menutup seluruh wajah. Dan, sejak itu beliau tak pernah lagi muncul di HRM. Pernah dijenguk Indra ke rumah Pak Sintong tak jua jumpa. Tetangga katakan dua hari yang lalu ada pertemuan dirumah beliau. Ada sekitar 4 orang bapak ibu dengan identitas Islam yang sangat kental nampaknya mengadakan rapat penting. Seluruh tetangga heran, karena Pak Sintong yang gagal sekolah pastor hingga sekarang hidup membujang kenapa diramaikan oleh gerombolan Islam berciri fundamentalis. Tak ada yang bisa menebak kemisteriusan ini. Apalagi dalam dua minggu Pak Sintong tidak pernah lagi bertegur sapa dengan para tetangga. Subuh sudah berangkat tinggalkan rumah dan kembali lagi pulang ke rumah sudah larut malam,
Tapi pada awal minggu ketiga Ferri dan Amsal sengaja menjumpai Pak Sintong di sekretariat HRM. Mengharapkan ada diskusi panjang yang dapat memformulasikan gerakan teater sebagai sebuah sarana perubahan sosial.
Ternyata suasana HRM nampak senyap tegang, tak kedengaran lagu dari komputer Indra, Pak Sintong baru hari pertama muncul kembali di sekretariat HRM, Ibu Sisilia tak ada di HRM. Sedang keluar membeli keperluan sekretariatan, Ari ke lapangan monitoring perkembangan diskusi kelompok di desa Pringgan Mencirim, Asmi staf dokumentasi heboh menyusun laporan kegiatan di kamar kerjanya, Asep baru selesai mandi dengan rambut masih basah merapikan piring gelas yang berantakan karena tadi malam ada pertemuan HRM dengan JGPM (Jaringan Gerakan Pengembangan Moral) .
Suratan takdir nasib Pak Sintong terlalu buruk. Siang itu satu kompi militer menggrebek sekretariat HRM untuk menangkap Pak Sintong. Beliau dituduh sebagai instruktur para terroris yang berhasil merampok BAC (Bank Asli Cendana ) di Jl. Antah Bantoro no 15. Bungobandor. .
Besok pagi Indra pergi ke markas Korem menjenguk Pak Sintong. Tapi, beliau sudah tak ada ditempat. Besi jeruji dinding atas sel tahanan sudah terbelah. Pak Sintong berhasil melarikan diri dari rumah tahanan sementara, di Korem jam 3 subuh. Kemana lagi pak Sintong mengembara, Indra tampak bingung.
Jumat, 18 Januari 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar